Jumat, 26 September 2014

Mengenal Wonosobo

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Dingin, sepanjang perjalanan bisa melihat kebun-kebun sayuran, lantas kalau hujan atau hari menginjak malam, kabut pun muncul. Sekilas, itu merupakan gambaran mengenai Wonosobo, sebuah Kabupaten yang ada di lerang gunung sindoro, gunung sumbing, gunung prahu, gunung bismo, pegunungan telomoyo, tampomas dan songgoriti. Jika berpergian menuju cilacap atau Banjarnegara, biasanya akan melewati kota ini dulu.

Beuh..., cuaca di sana benar-benar dingin menusuk. Bahkan tanpa AC mobil pun, kita bisa merasakan kesejukan daerah itu. Menyenangkan! Kebun-kebun sayurannya juga enak untuk dilihat. Iya, dilihat saja, karena saya kurang tahu di mana membelinya, mungkin di pasar daerah sana, tetapi bisa jadi sayur-sayur di sana dijual ke tempat lain. Di Wonosobo ini ada tempat-tempat wisata yang menarik seperti dataran tinggi Dieng, Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, dan masih banyak lagi. (Sering bolak-balik lewat kota ini baru tahu kalau Wonosobo punya banyak tempat wisata yang terkenal. Duh..., emang dasar nasib yang nggak pernah mampir berhenti di sana.)

Berdirinya Kabupaten Wonosobo ada kaitannya dengan kisah 3 pengembara yang masuk ke wilayah tersebut pada awal abad 17. Ketiga pengembara itu adalah Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Mereka bertiga menempati wilayah yang berbeda, di mana Kyai Kolodete membuka permukiman di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim di sekitar Kalibeber, dan Kyai Walik memilih wilayah yang kini menjadi Kota Wonosobo.

Kata Wonosobo sendiri diyakini bermula dari sebuah dusun yang ada di Selomerto, sebuah daerah yang didapatkan oleh Ki Singowedono yang merupaka cucu kyai Karim, di mana Dusun tersebut bernama Wanasaba yang didirikan oleh Kyai Wanasaba, hingga kini dusun tersebut pun masih ada, dan banyak dikunjungi para peziarah, yang ingin berdoa di makam Kyai Wanasaba, Kyai Goplem, Kyai Putih, dan Kyai Wan Haji.

Wonosobo sendiri memiliki makanan kuliner yang sangat terkenal, apalagi kalau bukan Mie Ongklok? Semua pasti sudah pernah mendengar Mie Ongklok bukan?


Eh...? Ada yang belum pernah dengar ternyata. Baik-baik, saya jelaskan deh tentang Mie Ongklok ini. Mie Ongklok ini sebenarnya adalah bakmi. Iya, bakmi, nama depannya aja udah pake Mie, pasti bahan dasarnya bakmi, kan. *Ditimpuk pake bantal*
Ongklok di Mie Ongklok ternyata memiliki arti sendiri. Disebut mie ongklok karena sebelum disajikan, mie ini diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Kol dan daun kucai merupakan sayuran khas Wonosobo. Kucai sendiri adalah daun yang terkenal sebagai penurun darah tinggi. Selain itu, ada juga sate sapi, tempe kemul, dan geblek (makanan sejenis singkong). Jelas saja, makanan berkuah nan panas ini cocok dimakan di daerah Wonosobo yang berhawa dingin. Kalau lewat ke Wonosobo, jangan lupa coba makanan khas daerah ini, ya.

Read More

Kamis, 25 September 2014

Tahap-tahap Penulisan (2)

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Di artikel sebelumnya, tertulis mengenai tahap prapenulisan. Sekarang, kita masuk ke tahap penulisa. Di tahap ini bahan-bahan yang sebelum ada di tahap prapenulisan akan segera dituangkan dalam bentuk tulisan.

Kerangka yang telah dibentuk mulai dijadikan sebagai rangkaian cerita yang menjadi satu kesatuan yang nyata. Dengan berpedoman pada karangan, kita bisa mengetahui patok-patok mana yang harus dipatuhi, mana patok cerita yang melanggar dari kerangka itu sendiri. Pengekspresian ide pada tahap penulisan ini membutuhkan dorongan, semangat, dan ketelatenan dari penulis sendiri. Karena tidak jarang, saat menulis sebuah cerita, penulis mendadak tidak mood, merasa frustasi, jengkel, dan akhirnya tidak lagi melanjutkan naskah ceritanya.

Musuh utama pada seorang penulis adalah dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengendalikan kemalasan serta rasa frustasi karena kejengkelannya akibat naskahnya tidak selesai juga. Disarankan, bila memang penulis tengah mengalami writer’s block, untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan tulisannya. Hal itu dilakukan, supaya si penulis tidak menghancurkan karyanya sendiri, karena... saat dalam emosi labil atau tekanan, kemungkinan si penulis menganggap karyanya sangat buruk, pasti sangat besar.

Namun, bukankah karya pertama memang tidak dimaksudkan untuk menjadi yang terbaik?

Di sinilah, revisi akan berperan. Setelah tahap penulisan dan penulis berhasil menyelesaikan naskah ceritanya, maka dimulailah tahap merevisi naskah. Disarankan untuk mengambil tenggat waktu dari selesai penulisan dan awal mulai untuk mengedit. Di revisi ini, penulisa akan membaca tulisan berulang-ulang, membereskan cerita yang kurang masuk akal, menambahi atau menambal bagian-bagian cerita yang dirasa kurang memuaskan, kemudian memotong atau memangkas cerita yang dianggap tidak perlu. Dari sini, proses kreatif kedua dijalankan.

Pada tahap revisi, penulis jauh lebih banyak berpikir dibanding saat menulis naskah pertamanya. Di sini, penulis pun dituntut untuk selalu sabar dan telaten dalam menghasapi naskahnya. Untuk menghasilkan naskah yang baik, memang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, ketika kita berhasil menyelesaikan satu naskah dan memolesnya menjadi yang terbaik, akan ada rasa bangga dan bahagia dengan hasil karya tersebut. Terutama ketika karya kita diterima oleh penerbit Mayor.

Selamat menulis!
Read More

Tahap-tahap Menulis (1)

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas



Menulis adalah sebuah proses kreatif, imajinatif, dan melalui hasil pemikiran serta perenungan dari si penulis itu sendiri. Sebagai suatu proses, menulis memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Prapenulisan
2. Penulisan
3. Revisi

Pada tahap prapenulisan, proses menulis terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu, pemilihan dan penetapan topik tulisan, menentukan tujuan dan bentuk karangan, mencari dasar bahan penulisan, menyusun kerangka karangan tersebut. Pada bagian pemilihan dan penetapan topik penulisan, kita perlu memperhatikannya dengan baik, karena ini bagian yang penting, menentukan arah atau isi dari karangan kita sendiri. Hal ini dikarenakan pemilihan topik menjadi dasar untuk membangun tulisan tersebut.

Kemudian menentukan tujuan dan bentuk karangan. Dengan menentukan tujuan penulisan, penulis akan lebih mudah mengetahui apa yang ingin dikerjakannya dalam tahap penulisan. Tulisan tersebut nantinya bisa diperluas atau bahkan dipersempit. Lalu ada lagi mencari bahan dasar untuk penulisan. Kita membutuhkan sesuatu untuk menjadi bahan dasar tulisan. Seperti yang pernah dikatakan, menulis dan membaca aalah dua hal yang berdampingan. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa menulis. Karena dari bacaan-bacaan-lah kita bisa mengetahui dan memahami apa yang ingin kita utarakan dalam sebuah tulisan.

Yang terakhir pada tahap prapenulisan adalah membuat kerangka karangan. Percayalah bahwa ini pun menjadi yang paling penting. Saat kalian diburu waktu, diberi tekanan untuk segera menyelesaikan cerita, kerangka karangan akan memudahkan kalian dalam menyelesaikan naskah. Kerangka karangan berisi garis besar cerita dari awal sampai akhir. Dan kita bisa membuat patokan-patokan yang akan dipatuhi per bagian cerita dalam karangan. Dengan adanya kerangka, ini memudahkan pekerjaan kita dalam menulis serta mengingatkan seandainya kita teledor dalam mempertahankan logika cerita.
Read More

Rabu, 24 September 2014

Mari Membaca!

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Berapa jumlah buku dalam setahun yang kalian selesaikan?

50 buku? Tidak? Oh..., mungkin 30? Masih tidak juga? Jadi, berapa? 1 buah buku?

Itu bagus. Setidaknya kalian menyelesaikan satu buah buku bacaan dari pada tidak sama sekali. Namun, apakah konteks membaca itu hanya diukur dari buku? Sebenarnya tidak juga. Karena dari media koran atau online pun sebenarnya kita pun membaca. Buku atau media apa pun yang menjadi sarana bacaan kita, sebetulnya adalah media pembelajaran pula pada kita.

Dari bahan bacaan, kita mendapat tambahan pengetahuan. Dengan semakin banyak membaca buku, maka kita semakin belajar untuk bertambah kritis dan mengamati sesuatu dengan lebih detail lagi. Dengan membaca, pikiran kita juga terlatih untuk mengalisis sesuatu. Tentunya ini suatu hal yang menguntungkan bukan?

Selain menambah pengetahuan dan mengasah daya analisis kita, membaca juga apat meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan. Kemudian menjauhkan otak dari penyakit Alzheimer maupun bisa menjadi sarana untuk pengembangan diri.

Jadi tunggu apa lagi? Mari membaca dan tingkatkan wawasan mengenai dunia!
Read More

Menulis!

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas


Jika kau ingin menulis, maka tulislah.

Sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya memiliki arti mendalam. Seringkali, kita terkecoh dan bahkan menyepelekan sesuatu yang sederhana. Padahal dengan suatu hal yang sederhana, kita bisa membuat banyak hal yang luar biasa. Seperti contohnya dengan membuat sebuah premis tulisan dengan pertanyaan atau kalimat pengandaian, bagaimana jika....

Sebuah ide tidak akan menjadi apa-apa bila tidak direalisasikan. Seperti halnya keinginan seorang penulis. Penulis tidak akan menjadi penulis bila dia tidak memulai menulis. Ide-ide yang ada di dalam kepala penulis tidak akan tersampaikan pada pembaca, bila dia tidak mulai menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Ada beragam alasan yang bisa disampaikan penulis bila dia ingin menunda-nunda untuk menulis, tapi hanya akan ada sedikit alasan untuk bertahan bahkan mencoba saat menulis.

Tidak ada kegagalan, bila kita tidak mencoba.

Jika kebingungan untuk menulis, maka cobalah untuk menulis satu kalimat awal, entah apa pun itu. Kemudian, dari satu kalimat itu, kembangkan menjadi sebuah outline (kerangka karangan yang mencakup dari awal sampai akhri tulisan). Di dalam kerangka tersebut, kita bisa memetakan poin-poin apa yang akan kita tulis di setiap bagian atau bab. Kemudian, perdalam, gali lagi mengenai tema yang ingin kamu angkat melalui tulisan tersebut. Ide-ide, semuanya, coba tuangkan dalam satu sketsa cerita yang sederhana, lalu kembangkan lagi menjadi sebuah tulisan besar yang bisa jadi kompleks, atau malah menyederhanakan.


Hal yang paling utama dalam kegiatan menulis adalah membaca. Kedua kegiatan ini sebenarnya pasangan, satu-kesatuan. Tanpa membaca, tulisan kita bisa jadi kering, miskin makna atau bahkan tak bermakna sama sekali. Namun, dengan membaca (membaca buku atau cerita apa pun) cerita atau tulisan kita bisa kaya dengan beragam aneka bumbu. Jangan batasi bacaan kita dalam satu genre atau satu bagian saja. Perluas wawasan pula dan banyak-banyak bergaul dengan orang. Mari kita budayakan membaca dan menulis. ^__^
Read More

Selasa, 23 September 2014

Bubur-bubur Mengenyangkan!

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas



Ada begitu banyak jenis biji-bijian yang bisa dibuat menjadi makanan. Entah itu dibuat menjadi nasi, bubur, ketan, roti atau apa saja. Untuk tulisan kali ini, maka akan membahas biji-bijian yang diolah menjadi bubur. Bubur apa saja tentunya. :)))
Siapa yang tak suka bubur? Pasti ada. Kalau saya pribadi kebetulan suka bubur, terutama bubur ayam sama bubur ketan item. Rasanya enak. Dua-duanya pun sama-sama tipe makanan yang mengenyangkan, meski kalau makan bubur ayam, dalam waktu beberapa jam sudah terasa lapar lagi.

Banyak bubur yang kita kenal dari olahan tepung yang berbeda-beda, seperti misalnya bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur candil, bubur mutiara, bubur sum-sum, dan masih banyak lagi. Rata-rata, bubur tersebut bisa kita temukan di pedagang-pedagang di pasar, kecuali bubur tertentu seperti bubur abang putih yang biasanya dimasak untuk acara tertentu.

Nah, untuk bubur kacang hijau, pastinya familiar, kan? Makanan itu hampir setiap hari selalu ada, apalagi waktu malam, banyak abang-abang burjo yang biasanya jualan di pinggir jalan. Makanan ini juga biasanya dibagikan waktu PKK, buat adik-adik bayi bubur ini bagus. Selain itu, ada juga bubur ketan hitam, yang lebih kental dari bubur kacang hijau. Kemudian bubur mutiara yang terbuat dari tepung sagu. Ada juga bubur candil yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung ketan. Lalu bubur sum-sum yang terbuat dari beras ketan. Rata-rata dari bubur tersebut biasanya disiram dengan kuah santan kental, tapi untuk bubur sum-sum biasanya dengan kuah gula jawa.



Read More

Jajanan Pasar yang Enak dan Murah! (2)

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas


Bentuknya bulat, ada taburan biji wijennya, dan ada isiannya pula. Kue apakah itu? Eng i eng...., benar sekali! Itu tadi adalah Onde-onde! Penganan tradisional khas jawa ini sangat populer di kalangan masyarakat. Terbuat dari tepung ketan dan juga tepung beras yang kemudian diisi dengan kacang hijau yang telah ditumbuk, baru kemudian ditaburi dengan biji wijen sebelum digoreng. Penganan ini bisa dibilang murah dan dijumpai pada penjual-penjual jajanan di pasar. Rasanya yang manis dan sedikit asin serta kenyal dari kulitnya membuat kue ini nikmat dimakan dengan teh tawar hangat.


Selain onde-onde yang bentuknya bulat mirip bola, ada lagi nagasari. Kali ini bentuknya tidak bulat, tetapi segi panjang. Nagasari biasa dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Penganan ini terbuat dari tepung beras, santan, dan juga pisang. Bumbu-bumbunya pun sederhana seperti garam, maupun vanilli. Makan beberapa potong makanan ini lumayan bisa mengenyangkan, lho.



Ada lagi ongol-ongol. Ongon-ongol ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal karena terbuat dari tepung sagu. Sementara rasanya manis, karena adonan diberi gula jawa. Ongol-ongol dimasak dengan cara dikukus. Adonan yang terdiri dari tepung sagu, gula jawa, daun pandan, sedikit garam, dan air itu dibuat kalis. Lalu diambil sedikit demi sedikit untuk dibentuk bulat, elips maupun persegi empat. Setelah itu, barulah proses pengukusan dimulai. Saat disajikan, ongon-ongol ditaburi parutan kelapa. Paling pas dinikmati saat bersantai, bersama segelas teh atau kopi panas.





Read More

Senin, 22 September 2014

Taman Djamoe

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Taman Djamoe Indonesia terletak di jalan Raya Semarang Bawen km 28 Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Di tempat ini, berbagai jenis atau bahkan ratusan jenis tanaman obat ditanam pada lahan seluas 3 hektar hingga membentuk panorama asri yang indah dan enak dilihat. Letak geografisnya berada di dekat Gunung Ungaran membuat suasana di taman Djamoe pun terasa sejuk dan dingin. Keindahan taman maupun edukasinya mengenai berbagai jenis tanaman obat pun menjadikan taman djamoe sebagai destinasi wisata edukasi baik seorang individual, kelompok, maupun keluarga.



Di taman Djamoe, masyarakat bisa mengenal lebih dekat keanekaragaman tanaman jamu yang selama ini sering dinikmati hasilnya, tapi jarang diketahui bentuk tanamannya. Ratusan tanaman jamu, mulai dari yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, hingga tanaman jamu yang langka sehingga perlu dijaga kelestariannya bisa dilihat di sini. Oleh sebab itu, Taman Djamoe Indonesia bisa menjadi sarana rekreasi sekaligus edukasi yang sangat tepat bagi kita semua.

Selain belajar mengenal tanaman-tanaman jamu dan manfaatnya, di sini kita pun bisa menikmati aneka masakan jawa yang disuguhkan di taman djamoe resto. Ada juga berbagai olahan dari tanaman jamu yang bisa diminum di sana, seperti beras kencur (yang jelas-jelas kita kenal dengan baik sehari-hari). Selain resto taman jamu, ada juga tempat perawata kecantikan yang bisa digunakan oleh kaum hawa, yaitu Srikaton Spa. Aneka perawatan tubuh bisa dijajal di sana, dengan waktu antara 1 – 2.5 jam. Taman ini buka dari pukul 8 pagi sampai 4 sore.


Read More

Tempat-tempat Pelega Rasa Lapar

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Daerah pleburan, yang berdekatan dengan Universitas Dipenogoro di daerah bawah, memang ramai dengan area rumah makan, pertokoan, serta penginapan. Ada kafe atau restoran di bagian singosari raya, tapi... ada juga warung makan biasa, tapi letaknya berada di area dalam daerah singosari, tepatnya di singosari 2. Namanya warung pecel singosari. Buka dari pagi sampai sore saja. Makanan yang disajikan pun makanan rumah seperti sayur asem, sayur sop, pecel, kemudian oblok-oblok dengan variasi makanan bermacam-macam.

Meski terlihat sederhana dan biasa-biasa saja, jangan salah sangka. Warung makan ini sangat ramai didatangi, apalagi ketika jam-jam makan siang orang kantoran. Beuh..., mau makan di sana saja bisa susah. Selain warung pecel singosari ini, ada juga warung makan lainnya yang letaknya ada di singosari raya, tidak terlalu jauh dari kafe pelangi, yaitu warung makan kembar dan warung pecel bu sis yang letaknya berdekatan.

Sama seperti warung pecel singosari, warung makan kembar dan bu sis ini pun biasanya ramai di saat jam-jam makan siang orang kantoran. Masakan yang mereka sediakan masakan rumaha. Namun, di kembar, masakannya lebih banyak dan bervariasi. Di warung pecel singosari dan bu sis, kita makan diladeni. Kalau di kembar kita prasmanan, boleh mengambil sesuka hati kemudian baru membayar. Ada beragam lauk dan sayur di sini, seperti sayur mangut, asem, bayam, sop, ayam kecap, sambel goreng telur puyuh, dan lain-lain.

Jika sedang rehat siang dan lapar, bisa datang ke daerah singosari sana dan mencoba menikmati aneka makanan rumahan di sana.
Read More

Jumat, 19 September 2014

Candi Borobudur

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Candi Borobudur merupakan warisan nenek moyang yang sangat terkenal. Candi yang dibuat di sekitar abad ke-8 di masa Raja Samaratungga itu terletak di kabupaten Magelang, di provinsi Jawa Tengah. Bentuk candi borobudur seperti piramida berundak yang semakin lama semakin mengerucut ke atas dengan stupa-stupa hampir berada di setiap undakannya.

Selain memiliki nilai seni yang tinggi, Borobudur juga menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Candi ini mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Kata borobudur sendiri memiliki beragam macam makna. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.

Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.

(Artikel dan foto disusun dari berbagai sumber).
Read More

Candi Gedung Sanga

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Candi gedung Sanga terletak di lereng gunung Ungaran, tepatnya di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Disebut sebagai Candi Gedung Sanga karena memang candi ini memiliki 9 bangunan, di mana antara satu candi dan candi lainnya letaknya berlainan. Candi-candi tersebut terletak dari bawah hingga mencapai ke atas dalam posisi yang simetris.

Dari bentuk serta bagaimana posisi candi tersebut dibangun, memperlihatkan perpaduan dari dua religi, yaitu kepercayaan terhadap nenek moyan serta budaya hindu di mana candi merupakan tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan.

Kompleks candi ini dibuat mengitari kawah sumber air panas, sehingga siapa pun yang datang ke sana bisa menikmati keindahan alam di sekitar candi gedung sanga sekaligus merasakan uap panas bumi. Jarak antara satu candi dengan candi lainnya berbeda-beda. Jadi, siap-siap untuk kelelahan ketika berjalan menanjak untuk sampai ke tiap-tiap candi. Selain itu, untuk mencapai ke gedung sanga ini pun bukan hal yang mudah. Jalan yang kita lewati sempit, berlanggak-lenggok, dan menanjak, membutuhak kehati-hatian ekstra dari kita, terutama saat hujan tiba.
Read More

Kamis, 18 September 2014

Gorengan-Gorengan Nan Menggiurkan

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas


Gorengan sudah menjadi teman sehari-hari bagi kebanyakan masyarakat setiap harinya. Dari mendoan, bakwan sayur, bakwan jagung, tahu isi, siapa tidak suka dengan itu? Tentu saja ada yang tidak suka. Tapi, sekarang kita akan membahas yang suka-suka saja. Makan gorengan tidak lengkap rasanya kalau tanpa teh manis panas dan ceplusan cabai hijau yang pedas. Kalau cabenya kurang nendang, makan gorengan pun terasa hambar, (Halah).


Makan satu-dua pun rasanya kurang cukup. Gorengan seperti mendoan, di mana tempe dibalut tepung yang diberi bumbu-bumbu serta taburan onclang, rasanya gurih di mulut. Begitupula bakwan jagung yang terasa sedikit manis. Bakwan Sayur apalagi, rasanya campuran antara gurih manis sayuran dan berair. Belum lagi tahu isi, di mana rasanya di luar rengah, tetapi di dalam sedikit lembek dengan sayur-sayuran.




Hehehe...., di penjual gorengan, harga masing-masing gorengan ini bervariasi, tergantung besar kecilnya. Ada yang menjual seharga 500, 700, 1000, bahkan ada yang sampai 3000! Edan! Saya pernah makan gorengan 1 sehaga 3000 gara-gara kepancing sama baunya yang enak. Tapi, sehabis dimakan.... rasanya hambar abis. Sejak saat itu, saya kapok beli gorengan yang dijual di mal. Rasanya sedikit aneh walau aromanya menggiurkan. Walau begitu, beli gorengan di abang-abang pinggir jalan pun harus hati-hati. Kita harus selektif menyantap makanan yang kita makan. Keseringan makan gorengan juga tidak baik. Lebih baik, membatasi diri makan gorengan dan buat gorengannya sendiri di rumah. Itu lebih sehat :D
Read More

Jajanan Pasar yang Enak dan Murah!

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas


Siapa yang suka kudapan? Setiap orang tentu punya makanan kecil kesukaannya sendiri-sendiri. Indonesia kaya akan makanan kecilnya. Ada yang terbuat dari umbi-umbian, buah, atau pun tepung dan beras. Semuanya nikmat dimakan dengan rasa khas masing-masing daerah. Kali ini, kita akan membahas mengenai jajanan pasar yang terbuat dari singkong.

Ada yang tahu, jajanan pasar apa yang terbuat dari singkong? Banyak! Ada gemblong, getuk, getuk goreng, tiwul, lemet dan masih banyak lagi. Gemblong semacam makanan yang terbuat dari parutan singkong yang kemudian diisi dengan gula jawa lalu digoreng. Siapa yang tidak tahu getuk? Kebanyakan pasti tahu getuk.


Sebenarnya, di lingkungan saya, getuk tidak terbatas pada jajanan pasar yang terbuat dari singkong, melainkan jajanan pasar yang biasa dibeli ibu saya, semuanya pasti dinamakan getuk, padahal tiap-tiap jajanan itu kemungkinan besar memiliki namanya sendiri-sendiri. Selain getuk ada tiwul yang menyerupai nasi tapi terbuat dari tepung singkong. Ada tiwul yang bisa dijadikan pengganti nasi lho dan bisa dimakan dengan lauk atau sayur. Namun, ada juga tiwul yang seperti kudapan, taburi kelapa dan lelehan gula jawa. Wah... rasa manisnya enak! 

Kemudian ada juga lemet. Mirip seperti gemblong tapi berbeda cara memasak dan pengerjaannya. Lemet dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Rasanya kenyal-kenyal dan manis dengan gula jawa yang dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya antara asin-manis dan gurih. Harumnya pun mengundang selera makan. Ayo, kita makan jajanan pasar atau malah membuatnya sendiri!
Read More

Rabu, 17 September 2014

Pasar Sentiling 2014

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas


Setelah event pameran perpustakaan dan arsip di kota Semarang, sebentar lagi akan digelar sebuah event pula yang akan berlangsung di kota Lama, yaitu Pasar malam Sentiling. Rencananya, event ini akan berlangsung dari tanggal 19 – 21 Desember 2014. Awalnya, event ini diadakan untuk menggairahkan kehidupan di area kota Lama. Program acara yang akan berlangsung antara lain:


- Pasar Sentiling
-  Zona:
Parade Plein
Kampung Jawa
Kampung Belanda
- Expo:
Koloniale Tentoonstelling
Vrouw
Kereta Api
Batik
- Symphony Kota Lama
- Jazz Event (19 September 2014)
- Acara kuliner
- Aneka lomba tradisional:
Nekeran
Gangsingan
Dakon

Ayo, datang dan ikut meriahkan pasar sentiling! Jangan lupa, kemungkinan besar jual-beli di tempat ini memakai uang-uangan yang ada di sekitar area pasar. Jadi, kalian harus menukar uang yang ada sekarang dengan uang-uangan yang tersedia di beberapa titik tempat penukaran uang, baru bisa membeli makanan atau barang di sekitar pasar sentiling.
Read More

Berburu kulineran di Jepara

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas
Tak disangka, kota kecil yang ada di utara pulau jawa ini (Jepara) memiliki makanan yang unik. Mulai dari horok-horok, pindang serani, sate kikil, madumongso, es dawet, sampai adon-adon coro. Yang terakhir ini jangan membayangkan yang aneh-aneh ya. Adon-adon coro bukan minuman yang terbuat dari serangga, kok.
 

Kita mulai dari yang pertama yaitu horok-horok. Ini merupakan makanan yang terbuat dari tepung aren. Rasanya agak asin, kenyal, dan sedikit hambar. Paling enak dimakan dengan pecel atau bakso, tapi bisa juga dinikmati hanya dengan sate kikil. Harganya cukup murah tapi itu dulu. Seribu bisa dapat potongan horok-horok yang besar, tapi entah kalau sekarang. Kemudian ada yang namanya pindang serani.


Makanan ini merupakan makanan olahan dari ikan. Jepara, sebagai kota yang letaknya di pinggir pantai, hampir pasti selalu mendapat kiriman hasil-hasil laut yang segar setiap hari. Ikan-ikan inilah yang biasanya dimasak menjadi pindang serani yang rasanya asem, gurih, segar, dan pedas. Namun, bahan dasar ikan yang dipakai untuk pindang serani bukanlah ikan pindang, tetapi ikan lain dan kebanyakan ikan bandeng. Pindang itu merupakan cara memasak dengan dikukus. Kemudian, ada sate kikil yang rasanya pedas dan berbumbu, bisa jadi teman lauk utamanya horok-horok.



Untuk minumannya, cobalah adon-adon coro. Seperti yang dikatakan tadi, adon-adon coro tidak terbuat dari serangga, melainkan malah dari kelapa, jahe, dan kadang ditambah dengan bumbu merica untuk mendapatkan rasa pedas yang lebih menggigit. Potongan-potongan kelapa muda juga ada di dalam minuman ini, sehingga rasanya lebih enak dan renyah. Adon-adon coro bisa dinikmati malam hari di sekitar SCJ (Shopping Center Jepara). Harganya cukup murah untuk seporsinya.
Read More

Selasa, 16 September 2014

Penghuni Rumah Yang Sangat Bermanfaat

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Apa yang terbayang dalam benak kalian bila melihat ini?

Kemungkinan besar pasti membayangkan rumah burung, atau lebih parah lagi rumah kucing. Sayangnya, ini bukan rumah burung atau kucing. Namun, ini merupakan rumah bagi buku-buku tak bertuan. Bisa disebut seperti itu, karena memang buku-buku ini tak lagi memiliki pemilik dan menjadi milik umum/bersama.

Rumah Buku hadis di Semarang sekitar tahun 2013. Rumah ini merupakan sumbangan dari salah satu anggota dari Goodreads Jakarta sebagai perpustakaan kecil yang dibebaskan. Maksudnya bebas di sini adalah bahwa rumah buku ini menjadi hak milik umum dan bisa diakses oleh siapa pun. Dengan adanya rumah buku ini, diharapkan masyarakat umum pun bisa ketularan dalam membaca, sehingga minat baca masyarakat meningkat.

Aturan dalam rumah buku ini luwes. Buku yang ada di dalam rumah baca boleh diambil untuk dibaca, tetapi tidak boleh diambil. Kita bisa menukar buku ke dalam rumah buku juga. Sayangnya, tidak semua orang mematuhi hal tersebut. Ada saja yang melanggarnya yaitu dengan mencuri buku-buku tersebut. Bahkan, yang lebih tragis lagi, kaca maupun tiang dari rumah buku ini dicuri. Sayang sekali.

Sekarang, Rumah Buku ditarik dan disimpan untuk sementara waktu. Benda yang pernah menjadi penghias di taman Srigunting di kota lama ini dalam masa perbaikan untuk kelak bisa digunakan kembali oleh masyarakat umum.

Read More

Pameran Arsip dan Perpustakaan se-Jawa Tengah

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Tanggal 16-18 September ini, bertempat di gedung wanita Semarang diselenggarakan sebuah pameran mengenai arsip dan perpustakaan se-Jawa Tengah. Dalam pameran ini ada cukup banyak perpustakaan serta arsip daerah yang ikut serta, seperti stand provinsi Jawa Tengah, Magelang, kudus, serta Semarang, dan lain sebagainya.

Tiap-tiap dari kantor arsip dan perpustakaan tersebut memiliki ciri khas sendiri-sendiri, seperti kantor arsip dan perpustakaan dari Kudus yang memajang sebuah Al Qur’an yang cukup besar. Kemudian ada kantor arsip dan perpustakaan provinsi Jawa Tengah yang memajang foto-foto dan buku-buku lama mengenai Semarang maupun Jawa Tengah secara keseluruhan.

Selain itu, ada pula beberapa toko buku yang ikut dalam pameran ini seperti toko buku Raja Murah, Divapress, Gramedia. Kemudian ada stan komunitas dari sebuah komunitas baca bernama Goodreads Indonesia Semarang, yang memamerkan beberapa koleksi buku-bukunya serta menjual buku-buku second yang murah.


Buku-buku yang ada di bawah merupakan buku-buku koleksi dari anggota Goodreads Indonesia Semarang.



Read More

Senin, 15 September 2014

Kampung Rawa : Makan sambil Mengapung di Ambarawa

Diposkan oleh Dina Cahyaningtyas

Usai pergi dari Cimory, tanpa mencicipi makanan di sana, saya pun langsung tancap gas menuju ke Kampung Rawa. Dalm hati, saya berharap bisa mendapat makanan enak, murah, dan merupakan porsi keluarga. Biasalah, kantung mahasiswa di semester akhir itu biasanya cekak, alias banyak keringnya. Apalagi adik sepupu sudah merekomendasikan tempat ini. Maka..., saya pun makin bersemangat menuju ke sana.

Sebetulnya, antara Cimory – Kampung Rawa ini tidak terlalu jauh. Jaraknya mungkin sekitar 30 menit perjalanan atau 20 menitan, bila tidak macet. Letak Cimory memang berdekata dengan pertigaan yang menuju Salatiga serta Yogyakarta. Dengan hati riang, karena sehabis melihat pemandangan indah di Cimory, saya pun bergegas pergi ke sana. Bayang-bayang makanan yang enak, terutama udang bakar, membuat saya makin tidak sabar. Perlu diketahui, saya sampai rela tidak sarapan hanya karena mau wisata kuliner di kampung Rawa. :))

Tak berapa lama, kami pun sampai di sana. Angin besar yang bertiup langsung menyambut kedatangan kami. Cuaca tak berbeda jauh dari Cimory, terasa sejuk tetapi juga panas. Di sekitar kami, saya bisa melihat rawa pening yang begitu luas. Iya, tempat ini memang berada di sekitar danau rawa pening yang menjadi tempat menggantungkan hidup bagi penduduk sekitarnya. Saya dan yang lainnya pun memutuskan untuk masuk ke restoran terapung. Kami berdua naik semacam apa ya... kapal-kapalan kecil untuk menyebrang sampai di restoran. Sensai pertama ketika menginjakkan kaki di restoran itu adalah... pusing.

Bagaimana tidak? Hampir setiap kali kami berjalan, jalannya bergoyang ke kiri dan ke kanan, siapa pun rasanya pasti mual kalau goyang ke sana-ke sini terus-menerus. Kemudian, kami pun memilih tempat di sebuah bilik kecil yang ada di luar restoran. Dari sini, kami bisa melihat keindahan rawa pening. (Bagi yang masuk angin, hati-hati kalau memilih makan di luar area, seoalnya anginnya kencang, tahu-tahu malah masuk angin dan pilek seperti saya karena ndak tahan anginnya).

Kami memesan makanan paketan. Jujur, sewaktu buka menu dan melihat daftar harga, saya kaget karena harganya lebih mahal dari Cimory. (Tahu gitu saya nyicip makan di Cimory aja. Samapi sekarang nyesel, nggak icap-icip di sana :( ). Yang lebih mengesalkan lagi, dengan pelayanannya yang kurang mengenakkan. Masakannya pun kurang sedap. Padahal..., beberapa kawan bilang makanan di sini enak. Tapi saya malah tidak merasakan itu. Saat meninggalkan tempat tersebut, saya cukup kecewa, meski... yah... mau bagaimana lagi.

Semoga pelayanan dan makanan di sana bertambah enak. Ada yang mau mencoba? :D


Read More