Rabu, 24 September 2014

Mari Membaca!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Berapa jumlah buku dalam setahun yang kalian selesaikan?

50 buku? Tidak? Oh..., mungkin 30? Masih tidak juga? Jadi, berapa? 1 buah buku?

Itu bagus. Setidaknya kalian menyelesaikan satu buah buku bacaan dari pada tidak sama sekali. Namun, apakah konteks membaca itu hanya diukur dari buku? Sebenarnya tidak juga. Karena dari media koran atau online pun sebenarnya kita pun membaca. Buku atau media apa pun yang menjadi sarana bacaan kita, sebetulnya adalah media pembelajaran pula pada kita.

Dari bahan bacaan, kita mendapat tambahan pengetahuan. Dengan semakin banyak membaca buku, maka kita semakin belajar untuk bertambah kritis dan mengamati sesuatu dengan lebih detail lagi. Dengan membaca, pikiran kita juga terlatih untuk mengalisis sesuatu. Tentunya ini suatu hal yang menguntungkan bukan?

Selain menambah pengetahuan dan mengasah daya analisis kita, membaca juga apat meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan. Kemudian menjauhkan otak dari penyakit Alzheimer maupun bisa menjadi sarana untuk pengembangan diri.

Jadi tunggu apa lagi? Mari membaca dan tingkatkan wawasan mengenai dunia!
Read More

Menulis!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Jika kau ingin menulis, maka tulislah.

Sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya memiliki arti mendalam. Seringkali, kita terkecoh dan bahkan menyepelekan sesuatu yang sederhana. Padahal dengan suatu hal yang sederhana, kita bisa membuat banyak hal yang luar biasa. Seperti contohnya dengan membuat sebuah premis tulisan dengan pertanyaan atau kalimat pengandaian, bagaimana jika....

Sebuah ide tidak akan menjadi apa-apa bila tidak direalisasikan. Seperti halnya keinginan seorang penulis. Penulis tidak akan menjadi penulis bila dia tidak memulai menulis. Ide-ide yang ada di dalam kepala penulis tidak akan tersampaikan pada pembaca, bila dia tidak mulai menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Ada beragam alasan yang bisa disampaikan penulis bila dia ingin menunda-nunda untuk menulis, tapi hanya akan ada sedikit alasan untuk bertahan bahkan mencoba saat menulis.

Tidak ada kegagalan, bila kita tidak mencoba.

Jika kebingungan untuk menulis, maka cobalah untuk menulis satu kalimat awal, entah apa pun itu. Kemudian, dari satu kalimat itu, kembangkan menjadi sebuah outline (kerangka karangan yang mencakup dari awal sampai akhri tulisan). Di dalam kerangka tersebut, kita bisa memetakan poin-poin apa yang akan kita tulis di setiap bagian atau bab. Kemudian, perdalam, gali lagi mengenai tema yang ingin kamu angkat melalui tulisan tersebut. Ide-ide, semuanya, coba tuangkan dalam satu sketsa cerita yang sederhana, lalu kembangkan lagi menjadi sebuah tulisan besar yang bisa jadi kompleks, atau malah menyederhanakan.


Hal yang paling utama dalam kegiatan menulis adalah membaca. Kedua kegiatan ini sebenarnya pasangan, satu-kesatuan. Tanpa membaca, tulisan kita bisa jadi kering, miskin makna atau bahkan tak bermakna sama sekali. Namun, dengan membaca (membaca buku atau cerita apa pun) cerita atau tulisan kita bisa kaya dengan beragam aneka bumbu. Jangan batasi bacaan kita dalam satu genre atau satu bagian saja. Perluas wawasan pula dan banyak-banyak bergaul dengan orang. Mari kita budayakan membaca dan menulis. ^__^
Read More

Selasa, 23 September 2014

Bubur-bubur Mengenyangkan!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Ada begitu banyak jenis biji-bijian yang bisa dibuat menjadi makanan. Entah itu dibuat menjadi nasi, bubur, ketan, roti atau apa saja. Untuk tulisan kali ini, maka akan membahas biji-bijian yang diolah menjadi bubur. Bubur apa saja tentunya. :)))
Siapa yang tak suka bubur? Pasti ada. Kalau saya pribadi kebetulan suka bubur, terutama bubur ayam sama bubur ketan item. Rasanya enak. Dua-duanya pun sama-sama tipe makanan yang mengenyangkan, meski kalau makan bubur ayam, dalam waktu beberapa jam sudah terasa lapar lagi.

Banyak bubur yang kita kenal dari olahan tepung yang berbeda-beda, seperti misalnya bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur candil, bubur mutiara, bubur sum-sum, dan masih banyak lagi. Rata-rata, bubur tersebut bisa kita temukan di pedagang-pedagang di pasar, kecuali bubur tertentu seperti bubur abang putih yang biasanya dimasak untuk acara tertentu.

Nah, untuk bubur kacang hijau, pastinya familiar, kan? Makanan itu hampir setiap hari selalu ada, apalagi waktu malam, banyak abang-abang burjo yang biasanya jualan di pinggir jalan. Makanan ini juga biasanya dibagikan waktu PKK, buat adik-adik bayi bubur ini bagus. Selain itu, ada juga bubur ketan hitam, yang lebih kental dari bubur kacang hijau. Kemudian bubur mutiara yang terbuat dari tepung sagu. Ada juga bubur candil yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung ketan. Lalu bubur sum-sum yang terbuat dari beras ketan. Rata-rata dari bubur tersebut biasanya disiram dengan kuah santan kental, tapi untuk bubur sum-sum biasanya dengan kuah gula jawa.



Read More

Jajanan Pasar yang Enak dan Murah! (2)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Bentuknya bulat, ada taburan biji wijennya, dan ada isiannya pula. Kue apakah itu? Eng i eng...., benar sekali! Itu tadi adalah Onde-onde! Penganan tradisional khas jawa ini sangat populer di kalangan masyarakat. Terbuat dari tepung ketan dan juga tepung beras yang kemudian diisi dengan kacang hijau yang telah ditumbuk, baru kemudian ditaburi dengan biji wijen sebelum digoreng. Penganan ini bisa dibilang murah dan dijumpai pada penjual-penjual jajanan di pasar. Rasanya yang manis dan sedikit asin serta kenyal dari kulitnya membuat kue ini nikmat dimakan dengan teh tawar hangat.


Selain onde-onde yang bentuknya bulat mirip bola, ada lagi nagasari. Kali ini bentuknya tidak bulat, tetapi segi panjang. Nagasari biasa dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Penganan ini terbuat dari tepung beras, santan, dan juga pisang. Bumbu-bumbunya pun sederhana seperti garam, maupun vanilli. Makan beberapa potong makanan ini lumayan bisa mengenyangkan, lho.



Ada lagi ongol-ongol. Ongon-ongol ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal karena terbuat dari tepung sagu. Sementara rasanya manis, karena adonan diberi gula jawa. Ongol-ongol dimasak dengan cara dikukus. Adonan yang terdiri dari tepung sagu, gula jawa, daun pandan, sedikit garam, dan air itu dibuat kalis. Lalu diambil sedikit demi sedikit untuk dibentuk bulat, elips maupun persegi empat. Setelah itu, barulah proses pengukusan dimulai. Saat disajikan, ongon-ongol ditaburi parutan kelapa. Paling pas dinikmati saat bersantai, bersama segelas teh atau kopi panas.





Read More

Senin, 22 September 2014

Taman Djamoe

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Taman Djamoe Indonesia terletak di jalan Raya Semarang Bawen km 28 Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Di tempat ini, berbagai jenis atau bahkan ratusan jenis tanaman obat ditanam pada lahan seluas 3 hektar hingga membentuk panorama asri yang indah dan enak dilihat. Letak geografisnya berada di dekat Gunung Ungaran membuat suasana di taman Djamoe pun terasa sejuk dan dingin. Keindahan taman maupun edukasinya mengenai berbagai jenis tanaman obat pun menjadikan taman djamoe sebagai destinasi wisata edukasi baik seorang individual, kelompok, maupun keluarga.



Di taman Djamoe, masyarakat bisa mengenal lebih dekat keanekaragaman tanaman jamu yang selama ini sering dinikmati hasilnya, tapi jarang diketahui bentuk tanamannya. Ratusan tanaman jamu, mulai dari yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, hingga tanaman jamu yang langka sehingga perlu dijaga kelestariannya bisa dilihat di sini. Oleh sebab itu, Taman Djamoe Indonesia bisa menjadi sarana rekreasi sekaligus edukasi yang sangat tepat bagi kita semua.

Selain belajar mengenal tanaman-tanaman jamu dan manfaatnya, di sini kita pun bisa menikmati aneka masakan jawa yang disuguhkan di taman djamoe resto. Ada juga berbagai olahan dari tanaman jamu yang bisa diminum di sana, seperti beras kencur (yang jelas-jelas kita kenal dengan baik sehari-hari). Selain resto taman jamu, ada juga tempat perawata kecantikan yang bisa digunakan oleh kaum hawa, yaitu Srikaton Spa. Aneka perawatan tubuh bisa dijajal di sana, dengan waktu antara 1 – 2.5 jam. Taman ini buka dari pukul 8 pagi sampai 4 sore.


Read More

Tempat-tempat Pelega Rasa Lapar

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Daerah pleburan, yang berdekatan dengan Universitas Dipenogoro di daerah bawah, memang ramai dengan area rumah makan, pertokoan, serta penginapan. Ada kafe atau restoran di bagian singosari raya, tapi... ada juga warung makan biasa, tapi letaknya berada di area dalam daerah singosari, tepatnya di singosari 2. Namanya warung pecel singosari. Buka dari pagi sampai sore saja. Makanan yang disajikan pun makanan rumah seperti sayur asem, sayur sop, pecel, kemudian oblok-oblok dengan variasi makanan bermacam-macam.

Meski terlihat sederhana dan biasa-biasa saja, jangan salah sangka. Warung makan ini sangat ramai didatangi, apalagi ketika jam-jam makan siang orang kantoran. Beuh..., mau makan di sana saja bisa susah. Selain warung pecel singosari ini, ada juga warung makan lainnya yang letaknya ada di singosari raya, tidak terlalu jauh dari kafe pelangi, yaitu warung makan kembar dan warung pecel bu sis yang letaknya berdekatan.

Sama seperti warung pecel singosari, warung makan kembar dan bu sis ini pun biasanya ramai di saat jam-jam makan siang orang kantoran. Masakan yang mereka sediakan masakan rumaha. Namun, di kembar, masakannya lebih banyak dan bervariasi. Di warung pecel singosari dan bu sis, kita makan diladeni. Kalau di kembar kita prasmanan, boleh mengambil sesuka hati kemudian baru membayar. Ada beragam lauk dan sayur di sini, seperti sayur mangut, asem, bayam, sop, ayam kecap, sambel goreng telur puyuh, dan lain-lain.

Jika sedang rehat siang dan lapar, bisa datang ke daerah singosari sana dan mencoba menikmati aneka makanan rumahan di sana.
Read More

Jumat, 19 September 2014

Candi Borobudur

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Candi Borobudur merupakan warisan nenek moyang yang sangat terkenal. Candi yang dibuat di sekitar abad ke-8 di masa Raja Samaratungga itu terletak di kabupaten Magelang, di provinsi Jawa Tengah. Bentuk candi borobudur seperti piramida berundak yang semakin lama semakin mengerucut ke atas dengan stupa-stupa hampir berada di setiap undakannya.

Selain memiliki nilai seni yang tinggi, Borobudur juga menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Candi ini mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Kata borobudur sendiri memiliki beragam macam makna. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.

Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.

(Artikel dan foto disusun dari berbagai sumber).
Read More