Jumat, 26 September 2014

Mengenal Wonosobo

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Dingin, sepanjang perjalanan bisa melihat kebun-kebun sayuran, lantas kalau hujan atau hari menginjak malam, kabut pun muncul. Sekilas, itu merupakan gambaran mengenai Wonosobo, sebuah Kabupaten yang ada di lerang gunung sindoro, gunung sumbing, gunung prahu, gunung bismo, pegunungan telomoyo, tampomas dan songgoriti. Jika berpergian menuju cilacap atau Banjarnegara, biasanya akan melewati kota ini dulu.

Beuh..., cuaca di sana benar-benar dingin menusuk. Bahkan tanpa AC mobil pun, kita bisa merasakan kesejukan daerah itu. Menyenangkan! Kebun-kebun sayurannya juga enak untuk dilihat. Iya, dilihat saja, karena saya kurang tahu di mana membelinya, mungkin di pasar daerah sana, tetapi bisa jadi sayur-sayur di sana dijual ke tempat lain. Di Wonosobo ini ada tempat-tempat wisata yang menarik seperti dataran tinggi Dieng, Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, dan masih banyak lagi. (Sering bolak-balik lewat kota ini baru tahu kalau Wonosobo punya banyak tempat wisata yang terkenal. Duh..., emang dasar nasib yang nggak pernah mampir berhenti di sana.)

Berdirinya Kabupaten Wonosobo ada kaitannya dengan kisah 3 pengembara yang masuk ke wilayah tersebut pada awal abad 17. Ketiga pengembara itu adalah Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Mereka bertiga menempati wilayah yang berbeda, di mana Kyai Kolodete membuka permukiman di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim di sekitar Kalibeber, dan Kyai Walik memilih wilayah yang kini menjadi Kota Wonosobo.

Kata Wonosobo sendiri diyakini bermula dari sebuah dusun yang ada di Selomerto, sebuah daerah yang didapatkan oleh Ki Singowedono yang merupaka cucu kyai Karim, di mana Dusun tersebut bernama Wanasaba yang didirikan oleh Kyai Wanasaba, hingga kini dusun tersebut pun masih ada, dan banyak dikunjungi para peziarah, yang ingin berdoa di makam Kyai Wanasaba, Kyai Goplem, Kyai Putih, dan Kyai Wan Haji.

Wonosobo sendiri memiliki makanan kuliner yang sangat terkenal, apalagi kalau bukan Mie Ongklok? Semua pasti sudah pernah mendengar Mie Ongklok bukan?


Eh...? Ada yang belum pernah dengar ternyata. Baik-baik, saya jelaskan deh tentang Mie Ongklok ini. Mie Ongklok ini sebenarnya adalah bakmi. Iya, bakmi, nama depannya aja udah pake Mie, pasti bahan dasarnya bakmi, kan. *Ditimpuk pake bantal*
Ongklok di Mie Ongklok ternyata memiliki arti sendiri. Disebut mie ongklok karena sebelum disajikan, mie ini diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Kol dan daun kucai merupakan sayuran khas Wonosobo. Kucai sendiri adalah daun yang terkenal sebagai penurun darah tinggi. Selain itu, ada juga sate sapi, tempe kemul, dan geblek (makanan sejenis singkong). Jelas saja, makanan berkuah nan panas ini cocok dimakan di daerah Wonosobo yang berhawa dingin. Kalau lewat ke Wonosobo, jangan lupa coba makanan khas daerah ini, ya.

Read More

Kamis, 25 September 2014

Tahap-tahap Penulisan (2)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Di artikel sebelumnya, tertulis mengenai tahap prapenulisan. Sekarang, kita masuk ke tahap penulisa. Di tahap ini bahan-bahan yang sebelum ada di tahap prapenulisan akan segera dituangkan dalam bentuk tulisan.

Kerangka yang telah dibentuk mulai dijadikan sebagai rangkaian cerita yang menjadi satu kesatuan yang nyata. Dengan berpedoman pada karangan, kita bisa mengetahui patok-patok mana yang harus dipatuhi, mana patok cerita yang melanggar dari kerangka itu sendiri. Pengekspresian ide pada tahap penulisan ini membutuhkan dorongan, semangat, dan ketelatenan dari penulis sendiri. Karena tidak jarang, saat menulis sebuah cerita, penulis mendadak tidak mood, merasa frustasi, jengkel, dan akhirnya tidak lagi melanjutkan naskah ceritanya.

Musuh utama pada seorang penulis adalah dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengendalikan kemalasan serta rasa frustasi karena kejengkelannya akibat naskahnya tidak selesai juga. Disarankan, bila memang penulis tengah mengalami writer’s block, untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan tulisannya. Hal itu dilakukan, supaya si penulis tidak menghancurkan karyanya sendiri, karena... saat dalam emosi labil atau tekanan, kemungkinan si penulis menganggap karyanya sangat buruk, pasti sangat besar.

Namun, bukankah karya pertama memang tidak dimaksudkan untuk menjadi yang terbaik?

Di sinilah, revisi akan berperan. Setelah tahap penulisan dan penulis berhasil menyelesaikan naskah ceritanya, maka dimulailah tahap merevisi naskah. Disarankan untuk mengambil tenggat waktu dari selesai penulisan dan awal mulai untuk mengedit. Di revisi ini, penulisa akan membaca tulisan berulang-ulang, membereskan cerita yang kurang masuk akal, menambahi atau menambal bagian-bagian cerita yang dirasa kurang memuaskan, kemudian memotong atau memangkas cerita yang dianggap tidak perlu. Dari sini, proses kreatif kedua dijalankan.

Pada tahap revisi, penulis jauh lebih banyak berpikir dibanding saat menulis naskah pertamanya. Di sini, penulis pun dituntut untuk selalu sabar dan telaten dalam menghasapi naskahnya. Untuk menghasilkan naskah yang baik, memang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, ketika kita berhasil menyelesaikan satu naskah dan memolesnya menjadi yang terbaik, akan ada rasa bangga dan bahagia dengan hasil karya tersebut. Terutama ketika karya kita diterima oleh penerbit Mayor.

Selamat menulis!
Read More

Tahap-tahap Menulis (1)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Menulis adalah sebuah proses kreatif, imajinatif, dan melalui hasil pemikiran serta perenungan dari si penulis itu sendiri. Sebagai suatu proses, menulis memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Prapenulisan
2. Penulisan
3. Revisi

Pada tahap prapenulisan, proses menulis terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu, pemilihan dan penetapan topik tulisan, menentukan tujuan dan bentuk karangan, mencari dasar bahan penulisan, menyusun kerangka karangan tersebut. Pada bagian pemilihan dan penetapan topik penulisan, kita perlu memperhatikannya dengan baik, karena ini bagian yang penting, menentukan arah atau isi dari karangan kita sendiri. Hal ini dikarenakan pemilihan topik menjadi dasar untuk membangun tulisan tersebut.

Kemudian menentukan tujuan dan bentuk karangan. Dengan menentukan tujuan penulisan, penulis akan lebih mudah mengetahui apa yang ingin dikerjakannya dalam tahap penulisan. Tulisan tersebut nantinya bisa diperluas atau bahkan dipersempit. Lalu ada lagi mencari bahan dasar untuk penulisan. Kita membutuhkan sesuatu untuk menjadi bahan dasar tulisan. Seperti yang pernah dikatakan, menulis dan membaca aalah dua hal yang berdampingan. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa menulis. Karena dari bacaan-bacaan-lah kita bisa mengetahui dan memahami apa yang ingin kita utarakan dalam sebuah tulisan.

Yang terakhir pada tahap prapenulisan adalah membuat kerangka karangan. Percayalah bahwa ini pun menjadi yang paling penting. Saat kalian diburu waktu, diberi tekanan untuk segera menyelesaikan cerita, kerangka karangan akan memudahkan kalian dalam menyelesaikan naskah. Kerangka karangan berisi garis besar cerita dari awal sampai akhir. Dan kita bisa membuat patokan-patokan yang akan dipatuhi per bagian cerita dalam karangan. Dengan adanya kerangka, ini memudahkan pekerjaan kita dalam menulis serta mengingatkan seandainya kita teledor dalam mempertahankan logika cerita.
Read More

Rabu, 24 September 2014

Mari Membaca!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Berapa jumlah buku dalam setahun yang kalian selesaikan?

50 buku? Tidak? Oh..., mungkin 30? Masih tidak juga? Jadi, berapa? 1 buah buku?

Itu bagus. Setidaknya kalian menyelesaikan satu buah buku bacaan dari pada tidak sama sekali. Namun, apakah konteks membaca itu hanya diukur dari buku? Sebenarnya tidak juga. Karena dari media koran atau online pun sebenarnya kita pun membaca. Buku atau media apa pun yang menjadi sarana bacaan kita, sebetulnya adalah media pembelajaran pula pada kita.

Dari bahan bacaan, kita mendapat tambahan pengetahuan. Dengan semakin banyak membaca buku, maka kita semakin belajar untuk bertambah kritis dan mengamati sesuatu dengan lebih detail lagi. Dengan membaca, pikiran kita juga terlatih untuk mengalisis sesuatu. Tentunya ini suatu hal yang menguntungkan bukan?

Selain menambah pengetahuan dan mengasah daya analisis kita, membaca juga apat meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan. Kemudian menjauhkan otak dari penyakit Alzheimer maupun bisa menjadi sarana untuk pengembangan diri.

Jadi tunggu apa lagi? Mari membaca dan tingkatkan wawasan mengenai dunia!
Read More

Menulis!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Jika kau ingin menulis, maka tulislah.

Sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya memiliki arti mendalam. Seringkali, kita terkecoh dan bahkan menyepelekan sesuatu yang sederhana. Padahal dengan suatu hal yang sederhana, kita bisa membuat banyak hal yang luar biasa. Seperti contohnya dengan membuat sebuah premis tulisan dengan pertanyaan atau kalimat pengandaian, bagaimana jika....

Sebuah ide tidak akan menjadi apa-apa bila tidak direalisasikan. Seperti halnya keinginan seorang penulis. Penulis tidak akan menjadi penulis bila dia tidak memulai menulis. Ide-ide yang ada di dalam kepala penulis tidak akan tersampaikan pada pembaca, bila dia tidak mulai menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Ada beragam alasan yang bisa disampaikan penulis bila dia ingin menunda-nunda untuk menulis, tapi hanya akan ada sedikit alasan untuk bertahan bahkan mencoba saat menulis.

Tidak ada kegagalan, bila kita tidak mencoba.

Jika kebingungan untuk menulis, maka cobalah untuk menulis satu kalimat awal, entah apa pun itu. Kemudian, dari satu kalimat itu, kembangkan menjadi sebuah outline (kerangka karangan yang mencakup dari awal sampai akhri tulisan). Di dalam kerangka tersebut, kita bisa memetakan poin-poin apa yang akan kita tulis di setiap bagian atau bab. Kemudian, perdalam, gali lagi mengenai tema yang ingin kamu angkat melalui tulisan tersebut. Ide-ide, semuanya, coba tuangkan dalam satu sketsa cerita yang sederhana, lalu kembangkan lagi menjadi sebuah tulisan besar yang bisa jadi kompleks, atau malah menyederhanakan.


Hal yang paling utama dalam kegiatan menulis adalah membaca. Kedua kegiatan ini sebenarnya pasangan, satu-kesatuan. Tanpa membaca, tulisan kita bisa jadi kering, miskin makna atau bahkan tak bermakna sama sekali. Namun, dengan membaca (membaca buku atau cerita apa pun) cerita atau tulisan kita bisa kaya dengan beragam aneka bumbu. Jangan batasi bacaan kita dalam satu genre atau satu bagian saja. Perluas wawasan pula dan banyak-banyak bergaul dengan orang. Mari kita budayakan membaca dan menulis. ^__^
Read More

Selasa, 23 September 2014

Bubur-bubur Mengenyangkan!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Ada begitu banyak jenis biji-bijian yang bisa dibuat menjadi makanan. Entah itu dibuat menjadi nasi, bubur, ketan, roti atau apa saja. Untuk tulisan kali ini, maka akan membahas biji-bijian yang diolah menjadi bubur. Bubur apa saja tentunya. :)))
Siapa yang tak suka bubur? Pasti ada. Kalau saya pribadi kebetulan suka bubur, terutama bubur ayam sama bubur ketan item. Rasanya enak. Dua-duanya pun sama-sama tipe makanan yang mengenyangkan, meski kalau makan bubur ayam, dalam waktu beberapa jam sudah terasa lapar lagi.

Banyak bubur yang kita kenal dari olahan tepung yang berbeda-beda, seperti misalnya bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur candil, bubur mutiara, bubur sum-sum, dan masih banyak lagi. Rata-rata, bubur tersebut bisa kita temukan di pedagang-pedagang di pasar, kecuali bubur tertentu seperti bubur abang putih yang biasanya dimasak untuk acara tertentu.

Nah, untuk bubur kacang hijau, pastinya familiar, kan? Makanan itu hampir setiap hari selalu ada, apalagi waktu malam, banyak abang-abang burjo yang biasanya jualan di pinggir jalan. Makanan ini juga biasanya dibagikan waktu PKK, buat adik-adik bayi bubur ini bagus. Selain itu, ada juga bubur ketan hitam, yang lebih kental dari bubur kacang hijau. Kemudian bubur mutiara yang terbuat dari tepung sagu. Ada juga bubur candil yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung ketan. Lalu bubur sum-sum yang terbuat dari beras ketan. Rata-rata dari bubur tersebut biasanya disiram dengan kuah santan kental, tapi untuk bubur sum-sum biasanya dengan kuah gula jawa.



Read More

Jajanan Pasar yang Enak dan Murah! (2)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Bentuknya bulat, ada taburan biji wijennya, dan ada isiannya pula. Kue apakah itu? Eng i eng...., benar sekali! Itu tadi adalah Onde-onde! Penganan tradisional khas jawa ini sangat populer di kalangan masyarakat. Terbuat dari tepung ketan dan juga tepung beras yang kemudian diisi dengan kacang hijau yang telah ditumbuk, baru kemudian ditaburi dengan biji wijen sebelum digoreng. Penganan ini bisa dibilang murah dan dijumpai pada penjual-penjual jajanan di pasar. Rasanya yang manis dan sedikit asin serta kenyal dari kulitnya membuat kue ini nikmat dimakan dengan teh tawar hangat.


Selain onde-onde yang bentuknya bulat mirip bola, ada lagi nagasari. Kali ini bentuknya tidak bulat, tetapi segi panjang. Nagasari biasa dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Penganan ini terbuat dari tepung beras, santan, dan juga pisang. Bumbu-bumbunya pun sederhana seperti garam, maupun vanilli. Makan beberapa potong makanan ini lumayan bisa mengenyangkan, lho.



Ada lagi ongol-ongol. Ongon-ongol ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal karena terbuat dari tepung sagu. Sementara rasanya manis, karena adonan diberi gula jawa. Ongol-ongol dimasak dengan cara dikukus. Adonan yang terdiri dari tepung sagu, gula jawa, daun pandan, sedikit garam, dan air itu dibuat kalis. Lalu diambil sedikit demi sedikit untuk dibentuk bulat, elips maupun persegi empat. Setelah itu, barulah proses pengukusan dimulai. Saat disajikan, ongon-ongol ditaburi parutan kelapa. Paling pas dinikmati saat bersantai, bersama segelas teh atau kopi panas.





Read More