Kamis, 02 Oktober 2014

Manfaat beberapa macam buah yang Kita kenal : Bengkoang, Belimbing manis, Belimbing Wuluh

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Bengkoang
Bengkuang atau lebih sering dibilang bengkoang sering dijual di tukang rujak dengan berbagai macam buah lainnya dan dicocol dengan saus gula merah yang kental dan manis. Di kosmetik-kosmetik kecantikan, bengkoang juga dimanfaatkan sebuah masker alami atau sabun pemutih juga.

Dalam buku “262 Tumbuhan Obat & Khasiatnya” karangan Drs. H. Arief Hariana, terbitan Penebar Swadaya, Bengkoang memiliki andungan pachyrhizon, rotenon, vitamin B1, dan vitamin C. Daun dan bijinya mengandung saponin dan flavonoid, sedangkan umbinya mengandung protein, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C. Akan tetapi, biji dan daunnya mengandung racun. Karena  patut diperhatikan dalam menggunakan tumbuhan bengkoang ini. Bengkoang memiliki manfaat untuk penyakit beri-beri, Demam, diabetes Melitus, Panyakit kulit dan eksim, Sariawan serta Wasir.



Belimbing Manis
Masih dari buku yang sama, saya ingin mengulas sedikit mengenai belimbing manis.
Belimbing manis yang memiliki nama latin Averrhoa carambola L. memiliki rasa asam dan manis. Bunganya punya rasa manis, netral, sedangkan batang, daun, dan akarnya memiliki rasa asam, kelat, dan netral. Belimbing manis yang bisa kita jumpai di pasar dan (lagi-lagi bisa kita temukan di abang-abang penjual rujak), memiliki manfaat dan kegunaan antara lain untuk diabetes melitus, kolesterol, darah tinggi, influenza, kencing batu, lever, malaria, serta sakit kepala kronis.



Belimbing Wuluh
Buah belimbing bentuknya lonjong, berwarna hijau dan rasanya benar-benar sangat asam dan tidak enak. Biasa dipakai oleh ibu-ibu rumah tangga untuk memasak sayur asam atau asem-asem. Belimbing Wuluh memiliki efek farmakologis di antaranya menghilangkan sakit, memperbanyak pengeluaran empedu, antiradang, peluruh kencing, dan pelembut wajah.

Bagian yang biasanya dipakai untuk mengobati penyakit adalah daun, bunga, dan buah. Penyakit yang bisa diobati seperti batuk, darah tinggi, jerawat, pegal linu, rematik, dan sakit gigi berlubang.
Read More

Manfaat Asam Jawa

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Kita tentu familiar dengan yang namanya asam atau lebih dikenal dengan sebuat asam jawa. Asam sering kali menjadi bahan dari makanan kita, seperti misalnya plecing kangkung atau dalam jamu kunir asam. Saya mengambil sebagian materi mengenai khasit asam jawa dari buku “262 Tumbuhan Obat & Khasiatnya” karangan Drs. H. Arief Hariana, terbitan Penebar Swadaya.


 Asam jawa yang memiliki nama ilmiah Tamarindus indica L. memiliki beberapa khasiat seperti untuk batuk, bisul, borok karena luka, gangguan pencernaan, karang gigi, menurunkan berat badan, mencegah rambut rontok, maupun sariawan. Namun, perlu diingat satu hal. Ada catatan khusus di mana wanita hamil dilarang memakan buah asam jawa yang tua. Saya akan sedikit share mengenai pembuatan ramuan untuk beberapa penyakit seperti sariawan, batuk, maupun mencegah rambut rontok.



.: Sariawan :.
Cuci bersih buah asam jawa atau bubuk kulit kayu asam jawa lalu campurkan dengan air secukupnya lalu gunakan untuk berkumur.

.: batuk :.
Cuci 10 gram daging buah asam, seduh dengan 1 gelas air panas, lalu minum bersama gula merah secukupnya 1 gelas sehari.

.: mencegah rambut rontok :.
Campur buah asam yang sudah masak dengansedikit air. Gunakan ramuan untuk mengurut kulit kepala, cuci dengan sampo, lalu bilas dengan air bersih.
Read More

Rabu, 01 Oktober 2014

Sastrawan-sastrawan Indonesia bagian 2

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



NH Dini
Nh. Dini merupakan singkatan dari Nurhayati Srihardini. Dia dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun. Pada usia itu ia telah menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.

Sebagai pengarang, Nh. Dini termasuk salah satu pengarang yang kreatif. Banyak karya yang telah ditulisnya, baik itu puisi, cerpen, maupun novel. Karya puisi yang telah ditulisnya ialah “Februari” (1956), “Pesan Ibu” (1956), “Kapal di Pelabuhan Semarang” (1956), “Kematian” (1968), “Berdua” (1958), “Surat Kepada Kawan” (1964), “Bertemu Kembali” (1964), “Dari Jendela” (1966), “Sahabat” (1968), “Kotaku” (1968), “Penggembala” (1968), “Terpendam” (1969), “Pulau yang Ditinggal” (1969), “Bulan di Abad yang Akan Datang” (1969), “Anakku Bertanya” (1969), “Tetangga” (1970), “Kelahiran ” (1970), “Burung Kecil” (1970), “Pagi Bersalju” (1970), “Sesaudara” (1970), “Jam Berdentang” (1970), “Musim Gugur di Hutan” (1970) “Penyapu Jalan di Paris” (1970), “Yang Telah Pergi”(1970), “Rinduku” (1970). “Tak Ada yang Kulupa” (1971), Le havre” (1971), “Paeis yang Kukenal” (1971), “Mimpi” (1971), “Dua yang Pokok” (1971), dan “Kemari Dekatkan Kursimu” (1971).

Cerita pendek yang ditulisnya terkumpul dalam tiga kumpulan cerita pendek, yaitu Dua Dunia (1956), Tuileries (1982), serta Segi dan Garis (1983). Kumpulan cerpen Dua Dunia terdiri atas tujuh cerpen, yaitu “Dua Dunia”, “Istri Prajurit”, “Djatayu”, “Kelahiran”, “Pendurhaka”, “Perempuan Warung, dan “Penemuan”. Kumpulan cerpen Tuileries terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Tuileries”, “Kucing”, “Pabrik”, “Hari Larut di Kampung Borjuis”, “Kalipasir”, “Jenazah”, “Pencakar Langit”, “Matinya Sebuah Pulau”, “Pasir Hewan”, “Burung Putih”, “Tanah yang Terjanjikan”, dan “Warga Kota”.Kumpulan cerpen Segi dan Garis terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Di Langit di Hati”, “Di Pondok Salju”, “Hujan”, “Ibu Jeantte”, “Janda Muda”, “Kebahagiaan”, “Keluar Tanah Air”, “Pandanaran”, “Penanggung Jawab Candi”, “Perjalanan”, “Sebuah Teluk”", dan “Wanita Siam”. Kumpulan cerpen yang lain ialah Liar (1989) (perubahan judul kumpulan cerpen Dua Dunia) dan Istri Konsul (1989)

Novel yang telah ditulisnya ialah Dua Dunia, (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Orang-Orang Trans (1985), Pertemuan Dua hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun (1993), dan Kemayoran (2000).



Widji Tukul
Wiji Thukul adalah seorang seniman cum aktivis yang turut dihilangkan secara paksa oleh rezim Orde Baru Soeharto karena aktifitas seni kerakyatannya dianggap provokatif, subversif dan mengancam stabilitas negara. Sejak masa remaja ia sudah aktif menggeluti dunia seni teater dan sastra. Karya-karya ciptaannya terkesan nyeleneh, karena tidak membicarakan keindahan, justru cenderung penuh dengan nada-nada protes akan kenyataan hidup kaum pinggiran yang begitu sulit dijalani. Berbeda dari kebanyakan seniman di masanya yang alergi pada politik, Wiji Thukul dengan tegas melibatkan diri dalam aktivitas politik pergerakan dan menentang keras rezim militeristik Orba yang telah menciptakan keterpurukan Bangsa dengan menghamba pada kepentingan imperium modal asing.

Wiji Thukul kini telah menjadi salah satu legenda dalam sejarah politik pergerakan di Indonesia.  “Hanya Ada Satu Kata : Lawan !” merupakan penggalan larik salah satu puisinya yang berjudul “Peringatan” telah menjelma ibarat kredo magis yang mampu membakar semangat bagi kaum aktivis pergerakan rakyat. Hingga sekarang, Ide dan cita-citanya masih terus hidup disuarakan lewat mulut-mulut manusia yang kian banyak membacai sajak-sajak miliknya. Bahkan sketsa gambar wajahnya pun telah menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan para penguasa yang menyengsarakan rakyatnya.

(Diolah dari berbagai sumber)
Read More

Sastrawan-Sastrawan Indonesia bagian 1

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Ada begitu banyak Sastrawan di Negara ini, tetapi mungkin hanya sedikit yang bisa menembus kancah sastra dunia. Contoh dari beberapa sastrawan lama yang berhasil menembus dunia adalah Pramoedya Ananta Toer. Ada pula sastrawan lain yang terkenal seperti Chairil Anwar, NH Dini, Widji Thukul, kemudian ada juga Buya Hamka. Kalau saya boleh menyebutkan, mereka adalah sastrawan klasik, di mana cerita tersebut tidak mengenal batasan waktu, isinya selalu relevan terlepas dari siapa yang membaca atau di mana cerita itu diterbitkan. Kata klasik sendiri tidak melalui mengacu pada umur karya tersebut. Di sini, klasik mengindikasikan cerita tersebut mampu memberikan nilai resonansi yang kuat bagi pembacanya.



Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer atau sering dipanggil dengan sebutan Pram saja, merupakan salah satu pengarang produktif yang menorehkan prestasi di dunia sastra Indonesia. Banyak dari karangan-karangannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, salah satunya adalah Bumi Manusia, buku pertama dari tetralogi pulau buru, sebuah roman yang beliau tulis ketika diasingkan ke pulau Buru.

Beliau lahir dari seorang Ayah yang berprofesi sebagai guru dan Ibu yang berjualan nasi. Pram dikenal sebagai penulis yang handal, di mana tulisan-tulisannya memiliki ciri yang kuat, tegas, dan blak-blakan.


Chairil Anwar
Chairil Anwar lahir di Medan, 22 juli 1922. Tulus adalah nama ayahnya dan saleha ibunya. Mereka berasal dari payakumbuh, sumatera barat. Chairil lahir dalam perantauan kedua orangtuanya ke medan. Dia bersekolah di HIS, Medan. HIS merupakan sekolah dasar pada zaman belanda. Kemudian dia melanjutkan ke SMP, yang ada pada Zaman penjajah dulu di sebut MULO. Di sekolah menengah ini dia hanya duduk di kelas pendahuluan (Voorklaas) dan kelas satu, kemudian ia pindah ke jakarta pada tahun 1941, ketika berumur 19 tahun. Dia tidak tamat MULO karena kesulitan ekonomi. Sajak yang paling terkenal dari seorang Chairil Anwar adalah sajak berjudul “Aku”.
Ada beberapa tuduhan plagiat yang pernah dialamatkan kepada Chairil Anwar sewaktu dia masih hidup. Diberitakan bahwa sajaknya yang berjudul “Datang Dara Hilang Dara” merupakan hasil palgiat dari sajak Hsu Chih Mo yang berjudul “A song of the sea”. Tidak hanya itu saja yang ia contoh, tetapi juga banyak sajak-sajak lain seperti “karawang-Bekasi” yang diambil dari sajak Archibald MacLeish yang berjudul “ The young dead soldiers”. Demikian juga dengan sajaknya “ kepada peminta-minta”, “Rumahku”, dan lain-lain.

Berita itu tentu saja mengejutkan dunia sastra Indonesia sehingga timbul polemik antara yang menyerang dan mempertahankan Chairil. Namun orang-orang pun tidak dapat membantah peranan dan jasa besar Chairil dalam sejarah sastra Indonesia.



Buya Hamka
Buya Hamka lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat menjadi HAMKA.  Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.  Karya-karya Buya Hamka yang paling terkenal adalah tenggelamnya kapal van der wijck, yang pernah dituduh Pram sebagai plagiat.
Read More

Jumat, 26 September 2014

Mengenal Wonosobo

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Dingin, sepanjang perjalanan bisa melihat kebun-kebun sayuran, lantas kalau hujan atau hari menginjak malam, kabut pun muncul. Sekilas, itu merupakan gambaran mengenai Wonosobo, sebuah Kabupaten yang ada di lerang gunung sindoro, gunung sumbing, gunung prahu, gunung bismo, pegunungan telomoyo, tampomas dan songgoriti. Jika berpergian menuju cilacap atau Banjarnegara, biasanya akan melewati kota ini dulu.

Beuh..., cuaca di sana benar-benar dingin menusuk. Bahkan tanpa AC mobil pun, kita bisa merasakan kesejukan daerah itu. Menyenangkan! Kebun-kebun sayurannya juga enak untuk dilihat. Iya, dilihat saja, karena saya kurang tahu di mana membelinya, mungkin di pasar daerah sana, tetapi bisa jadi sayur-sayur di sana dijual ke tempat lain. Di Wonosobo ini ada tempat-tempat wisata yang menarik seperti dataran tinggi Dieng, Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, dan masih banyak lagi. (Sering bolak-balik lewat kota ini baru tahu kalau Wonosobo punya banyak tempat wisata yang terkenal. Duh..., emang dasar nasib yang nggak pernah mampir berhenti di sana.)

Berdirinya Kabupaten Wonosobo ada kaitannya dengan kisah 3 pengembara yang masuk ke wilayah tersebut pada awal abad 17. Ketiga pengembara itu adalah Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Mereka bertiga menempati wilayah yang berbeda, di mana Kyai Kolodete membuka permukiman di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim di sekitar Kalibeber, dan Kyai Walik memilih wilayah yang kini menjadi Kota Wonosobo.

Kata Wonosobo sendiri diyakini bermula dari sebuah dusun yang ada di Selomerto, sebuah daerah yang didapatkan oleh Ki Singowedono yang merupaka cucu kyai Karim, di mana Dusun tersebut bernama Wanasaba yang didirikan oleh Kyai Wanasaba, hingga kini dusun tersebut pun masih ada, dan banyak dikunjungi para peziarah, yang ingin berdoa di makam Kyai Wanasaba, Kyai Goplem, Kyai Putih, dan Kyai Wan Haji.

Wonosobo sendiri memiliki makanan kuliner yang sangat terkenal, apalagi kalau bukan Mie Ongklok? Semua pasti sudah pernah mendengar Mie Ongklok bukan?


Eh...? Ada yang belum pernah dengar ternyata. Baik-baik, saya jelaskan deh tentang Mie Ongklok ini. Mie Ongklok ini sebenarnya adalah bakmi. Iya, bakmi, nama depannya aja udah pake Mie, pasti bahan dasarnya bakmi, kan. *Ditimpuk pake bantal*
Ongklok di Mie Ongklok ternyata memiliki arti sendiri. Disebut mie ongklok karena sebelum disajikan, mie ini diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Kol dan daun kucai merupakan sayuran khas Wonosobo. Kucai sendiri adalah daun yang terkenal sebagai penurun darah tinggi. Selain itu, ada juga sate sapi, tempe kemul, dan geblek (makanan sejenis singkong). Jelas saja, makanan berkuah nan panas ini cocok dimakan di daerah Wonosobo yang berhawa dingin. Kalau lewat ke Wonosobo, jangan lupa coba makanan khas daerah ini, ya.

Read More

Kamis, 25 September 2014

Tahap-tahap Penulisan (2)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Di artikel sebelumnya, tertulis mengenai tahap prapenulisan. Sekarang, kita masuk ke tahap penulisa. Di tahap ini bahan-bahan yang sebelum ada di tahap prapenulisan akan segera dituangkan dalam bentuk tulisan.

Kerangka yang telah dibentuk mulai dijadikan sebagai rangkaian cerita yang menjadi satu kesatuan yang nyata. Dengan berpedoman pada karangan, kita bisa mengetahui patok-patok mana yang harus dipatuhi, mana patok cerita yang melanggar dari kerangka itu sendiri. Pengekspresian ide pada tahap penulisan ini membutuhkan dorongan, semangat, dan ketelatenan dari penulis sendiri. Karena tidak jarang, saat menulis sebuah cerita, penulis mendadak tidak mood, merasa frustasi, jengkel, dan akhirnya tidak lagi melanjutkan naskah ceritanya.

Musuh utama pada seorang penulis adalah dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengendalikan kemalasan serta rasa frustasi karena kejengkelannya akibat naskahnya tidak selesai juga. Disarankan, bila memang penulis tengah mengalami writer’s block, untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan tulisannya. Hal itu dilakukan, supaya si penulis tidak menghancurkan karyanya sendiri, karena... saat dalam emosi labil atau tekanan, kemungkinan si penulis menganggap karyanya sangat buruk, pasti sangat besar.

Namun, bukankah karya pertama memang tidak dimaksudkan untuk menjadi yang terbaik?

Di sinilah, revisi akan berperan. Setelah tahap penulisan dan penulis berhasil menyelesaikan naskah ceritanya, maka dimulailah tahap merevisi naskah. Disarankan untuk mengambil tenggat waktu dari selesai penulisan dan awal mulai untuk mengedit. Di revisi ini, penulisa akan membaca tulisan berulang-ulang, membereskan cerita yang kurang masuk akal, menambahi atau menambal bagian-bagian cerita yang dirasa kurang memuaskan, kemudian memotong atau memangkas cerita yang dianggap tidak perlu. Dari sini, proses kreatif kedua dijalankan.

Pada tahap revisi, penulis jauh lebih banyak berpikir dibanding saat menulis naskah pertamanya. Di sini, penulis pun dituntut untuk selalu sabar dan telaten dalam menghasapi naskahnya. Untuk menghasilkan naskah yang baik, memang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, ketika kita berhasil menyelesaikan satu naskah dan memolesnya menjadi yang terbaik, akan ada rasa bangga dan bahagia dengan hasil karya tersebut. Terutama ketika karya kita diterima oleh penerbit Mayor.

Selamat menulis!
Read More

Tahap-tahap Menulis (1)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Menulis adalah sebuah proses kreatif, imajinatif, dan melalui hasil pemikiran serta perenungan dari si penulis itu sendiri. Sebagai suatu proses, menulis memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Prapenulisan
2. Penulisan
3. Revisi

Pada tahap prapenulisan, proses menulis terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu, pemilihan dan penetapan topik tulisan, menentukan tujuan dan bentuk karangan, mencari dasar bahan penulisan, menyusun kerangka karangan tersebut. Pada bagian pemilihan dan penetapan topik penulisan, kita perlu memperhatikannya dengan baik, karena ini bagian yang penting, menentukan arah atau isi dari karangan kita sendiri. Hal ini dikarenakan pemilihan topik menjadi dasar untuk membangun tulisan tersebut.

Kemudian menentukan tujuan dan bentuk karangan. Dengan menentukan tujuan penulisan, penulis akan lebih mudah mengetahui apa yang ingin dikerjakannya dalam tahap penulisan. Tulisan tersebut nantinya bisa diperluas atau bahkan dipersempit. Lalu ada lagi mencari bahan dasar untuk penulisan. Kita membutuhkan sesuatu untuk menjadi bahan dasar tulisan. Seperti yang pernah dikatakan, menulis dan membaca aalah dua hal yang berdampingan. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa menulis. Karena dari bacaan-bacaan-lah kita bisa mengetahui dan memahami apa yang ingin kita utarakan dalam sebuah tulisan.

Yang terakhir pada tahap prapenulisan adalah membuat kerangka karangan. Percayalah bahwa ini pun menjadi yang paling penting. Saat kalian diburu waktu, diberi tekanan untuk segera menyelesaikan cerita, kerangka karangan akan memudahkan kalian dalam menyelesaikan naskah. Kerangka karangan berisi garis besar cerita dari awal sampai akhir. Dan kita bisa membuat patokan-patokan yang akan dipatuhi per bagian cerita dalam karangan. Dengan adanya kerangka, ini memudahkan pekerjaan kita dalam menulis serta mengingatkan seandainya kita teledor dalam mempertahankan logika cerita.
Read More