Senin, 22 September 2014

Taman Djamoe

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Taman Djamoe Indonesia terletak di jalan Raya Semarang Bawen km 28 Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Di tempat ini, berbagai jenis atau bahkan ratusan jenis tanaman obat ditanam pada lahan seluas 3 hektar hingga membentuk panorama asri yang indah dan enak dilihat. Letak geografisnya berada di dekat Gunung Ungaran membuat suasana di taman Djamoe pun terasa sejuk dan dingin. Keindahan taman maupun edukasinya mengenai berbagai jenis tanaman obat pun menjadikan taman djamoe sebagai destinasi wisata edukasi baik seorang individual, kelompok, maupun keluarga.



Di taman Djamoe, masyarakat bisa mengenal lebih dekat keanekaragaman tanaman jamu yang selama ini sering dinikmati hasilnya, tapi jarang diketahui bentuk tanamannya. Ratusan tanaman jamu, mulai dari yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, hingga tanaman jamu yang langka sehingga perlu dijaga kelestariannya bisa dilihat di sini. Oleh sebab itu, Taman Djamoe Indonesia bisa menjadi sarana rekreasi sekaligus edukasi yang sangat tepat bagi kita semua.

Selain belajar mengenal tanaman-tanaman jamu dan manfaatnya, di sini kita pun bisa menikmati aneka masakan jawa yang disuguhkan di taman djamoe resto. Ada juga berbagai olahan dari tanaman jamu yang bisa diminum di sana, seperti beras kencur (yang jelas-jelas kita kenal dengan baik sehari-hari). Selain resto taman jamu, ada juga tempat perawata kecantikan yang bisa digunakan oleh kaum hawa, yaitu Srikaton Spa. Aneka perawatan tubuh bisa dijajal di sana, dengan waktu antara 1 – 2.5 jam. Taman ini buka dari pukul 8 pagi sampai 4 sore.


Read More

Tempat-tempat Pelega Rasa Lapar

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Daerah pleburan, yang berdekatan dengan Universitas Dipenogoro di daerah bawah, memang ramai dengan area rumah makan, pertokoan, serta penginapan. Ada kafe atau restoran di bagian singosari raya, tapi... ada juga warung makan biasa, tapi letaknya berada di area dalam daerah singosari, tepatnya di singosari 2. Namanya warung pecel singosari. Buka dari pagi sampai sore saja. Makanan yang disajikan pun makanan rumah seperti sayur asem, sayur sop, pecel, kemudian oblok-oblok dengan variasi makanan bermacam-macam.

Meski terlihat sederhana dan biasa-biasa saja, jangan salah sangka. Warung makan ini sangat ramai didatangi, apalagi ketika jam-jam makan siang orang kantoran. Beuh..., mau makan di sana saja bisa susah. Selain warung pecel singosari ini, ada juga warung makan lainnya yang letaknya ada di singosari raya, tidak terlalu jauh dari kafe pelangi, yaitu warung makan kembar dan warung pecel bu sis yang letaknya berdekatan.

Sama seperti warung pecel singosari, warung makan kembar dan bu sis ini pun biasanya ramai di saat jam-jam makan siang orang kantoran. Masakan yang mereka sediakan masakan rumaha. Namun, di kembar, masakannya lebih banyak dan bervariasi. Di warung pecel singosari dan bu sis, kita makan diladeni. Kalau di kembar kita prasmanan, boleh mengambil sesuka hati kemudian baru membayar. Ada beragam lauk dan sayur di sini, seperti sayur mangut, asem, bayam, sop, ayam kecap, sambel goreng telur puyuh, dan lain-lain.

Jika sedang rehat siang dan lapar, bisa datang ke daerah singosari sana dan mencoba menikmati aneka makanan rumahan di sana.
Read More

Jumat, 19 September 2014

Candi Borobudur

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Candi Borobudur merupakan warisan nenek moyang yang sangat terkenal. Candi yang dibuat di sekitar abad ke-8 di masa Raja Samaratungga itu terletak di kabupaten Magelang, di provinsi Jawa Tengah. Bentuk candi borobudur seperti piramida berundak yang semakin lama semakin mengerucut ke atas dengan stupa-stupa hampir berada di setiap undakannya.

Selain memiliki nilai seni yang tinggi, Borobudur juga menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Candi ini mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Kata borobudur sendiri memiliki beragam macam makna. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.

Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.

(Artikel dan foto disusun dari berbagai sumber).
Read More

Candi Gedung Sanga

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Candi gedung Sanga terletak di lereng gunung Ungaran, tepatnya di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Disebut sebagai Candi Gedung Sanga karena memang candi ini memiliki 9 bangunan, di mana antara satu candi dan candi lainnya letaknya berlainan. Candi-candi tersebut terletak dari bawah hingga mencapai ke atas dalam posisi yang simetris.

Dari bentuk serta bagaimana posisi candi tersebut dibangun, memperlihatkan perpaduan dari dua religi, yaitu kepercayaan terhadap nenek moyan serta budaya hindu di mana candi merupakan tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan.

Kompleks candi ini dibuat mengitari kawah sumber air panas, sehingga siapa pun yang datang ke sana bisa menikmati keindahan alam di sekitar candi gedung sanga sekaligus merasakan uap panas bumi. Jarak antara satu candi dengan candi lainnya berbeda-beda. Jadi, siap-siap untuk kelelahan ketika berjalan menanjak untuk sampai ke tiap-tiap candi. Selain itu, untuk mencapai ke gedung sanga ini pun bukan hal yang mudah. Jalan yang kita lewati sempit, berlanggak-lenggok, dan menanjak, membutuhak kehati-hatian ekstra dari kita, terutama saat hujan tiba.
Read More

Kamis, 18 September 2014

Gorengan-Gorengan Nan Menggiurkan

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Gorengan sudah menjadi teman sehari-hari bagi kebanyakan masyarakat setiap harinya. Dari mendoan, bakwan sayur, bakwan jagung, tahu isi, siapa tidak suka dengan itu? Tentu saja ada yang tidak suka. Tapi, sekarang kita akan membahas yang suka-suka saja. Makan gorengan tidak lengkap rasanya kalau tanpa teh manis panas dan ceplusan cabai hijau yang pedas. Kalau cabenya kurang nendang, makan gorengan pun terasa hambar, (Halah).


Makan satu-dua pun rasanya kurang cukup. Gorengan seperti mendoan, di mana tempe dibalut tepung yang diberi bumbu-bumbu serta taburan onclang, rasanya gurih di mulut. Begitupula bakwan jagung yang terasa sedikit manis. Bakwan Sayur apalagi, rasanya campuran antara gurih manis sayuran dan berair. Belum lagi tahu isi, di mana rasanya di luar rengah, tetapi di dalam sedikit lembek dengan sayur-sayuran.




Hehehe...., di penjual gorengan, harga masing-masing gorengan ini bervariasi, tergantung besar kecilnya. Ada yang menjual seharga 500, 700, 1000, bahkan ada yang sampai 3000! Edan! Saya pernah makan gorengan 1 sehaga 3000 gara-gara kepancing sama baunya yang enak. Tapi, sehabis dimakan.... rasanya hambar abis. Sejak saat itu, saya kapok beli gorengan yang dijual di mal. Rasanya sedikit aneh walau aromanya menggiurkan. Walau begitu, beli gorengan di abang-abang pinggir jalan pun harus hati-hati. Kita harus selektif menyantap makanan yang kita makan. Keseringan makan gorengan juga tidak baik. Lebih baik, membatasi diri makan gorengan dan buat gorengannya sendiri di rumah. Itu lebih sehat :D
Read More

Jajanan Pasar yang Enak dan Murah!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Siapa yang suka kudapan? Setiap orang tentu punya makanan kecil kesukaannya sendiri-sendiri. Indonesia kaya akan makanan kecilnya. Ada yang terbuat dari umbi-umbian, buah, atau pun tepung dan beras. Semuanya nikmat dimakan dengan rasa khas masing-masing daerah. Kali ini, kita akan membahas mengenai jajanan pasar yang terbuat dari singkong.

Ada yang tahu, jajanan pasar apa yang terbuat dari singkong? Banyak! Ada gemblong, getuk, getuk goreng, tiwul, lemet dan masih banyak lagi. Gemblong semacam makanan yang terbuat dari parutan singkong yang kemudian diisi dengan gula jawa lalu digoreng. Siapa yang tidak tahu getuk? Kebanyakan pasti tahu getuk.


Sebenarnya, di lingkungan saya, getuk tidak terbatas pada jajanan pasar yang terbuat dari singkong, melainkan jajanan pasar yang biasa dibeli ibu saya, semuanya pasti dinamakan getuk, padahal tiap-tiap jajanan itu kemungkinan besar memiliki namanya sendiri-sendiri. Selain getuk ada tiwul yang menyerupai nasi tapi terbuat dari tepung singkong. Ada tiwul yang bisa dijadikan pengganti nasi lho dan bisa dimakan dengan lauk atau sayur. Namun, ada juga tiwul yang seperti kudapan, taburi kelapa dan lelehan gula jawa. Wah... rasa manisnya enak! 

Kemudian ada juga lemet. Mirip seperti gemblong tapi berbeda cara memasak dan pengerjaannya. Lemet dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Rasanya kenyal-kenyal dan manis dengan gula jawa yang dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya antara asin-manis dan gurih. Harumnya pun mengundang selera makan. Ayo, kita makan jajanan pasar atau malah membuatnya sendiri!
Read More

Rabu, 17 September 2014

Pasar Sentiling 2014

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Setelah event pameran perpustakaan dan arsip di kota Semarang, sebentar lagi akan digelar sebuah event pula yang akan berlangsung di kota Lama, yaitu Pasar malam Sentiling. Rencananya, event ini akan berlangsung dari tanggal 19 – 21 Desember 2014. Awalnya, event ini diadakan untuk menggairahkan kehidupan di area kota Lama. Program acara yang akan berlangsung antara lain:


- Pasar Sentiling
-  Zona:
Parade Plein
Kampung Jawa
Kampung Belanda
- Expo:
Koloniale Tentoonstelling
Vrouw
Kereta Api
Batik
- Symphony Kota Lama
- Jazz Event (19 September 2014)
- Acara kuliner
- Aneka lomba tradisional:
Nekeran
Gangsingan
Dakon

Ayo, datang dan ikut meriahkan pasar sentiling! Jangan lupa, kemungkinan besar jual-beli di tempat ini memakai uang-uangan yang ada di sekitar area pasar. Jadi, kalian harus menukar uang yang ada sekarang dengan uang-uangan yang tersedia di beberapa titik tempat penukaran uang, baru bisa membeli makanan atau barang di sekitar pasar sentiling.
Read More

Berburu kulineran di Jepara

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Tak disangka, kota kecil yang ada di utara pulau jawa ini (Jepara) memiliki makanan yang unik. Mulai dari horok-horok, pindang serani, sate kikil, madumongso, es dawet, sampai adon-adon coro. Yang terakhir ini jangan membayangkan yang aneh-aneh ya. Adon-adon coro bukan minuman yang terbuat dari serangga, kok.
 

Kita mulai dari yang pertama yaitu horok-horok. Ini merupakan makanan yang terbuat dari tepung aren. Rasanya agak asin, kenyal, dan sedikit hambar. Paling enak dimakan dengan pecel atau bakso, tapi bisa juga dinikmati hanya dengan sate kikil. Harganya cukup murah tapi itu dulu. Seribu bisa dapat potongan horok-horok yang besar, tapi entah kalau sekarang. Kemudian ada yang namanya pindang serani.


Makanan ini merupakan makanan olahan dari ikan. Jepara, sebagai kota yang letaknya di pinggir pantai, hampir pasti selalu mendapat kiriman hasil-hasil laut yang segar setiap hari. Ikan-ikan inilah yang biasanya dimasak menjadi pindang serani yang rasanya asem, gurih, segar, dan pedas. Namun, bahan dasar ikan yang dipakai untuk pindang serani bukanlah ikan pindang, tetapi ikan lain dan kebanyakan ikan bandeng. Pindang itu merupakan cara memasak dengan dikukus. Kemudian, ada sate kikil yang rasanya pedas dan berbumbu, bisa jadi teman lauk utamanya horok-horok.



Untuk minumannya, cobalah adon-adon coro. Seperti yang dikatakan tadi, adon-adon coro tidak terbuat dari serangga, melainkan malah dari kelapa, jahe, dan kadang ditambah dengan bumbu merica untuk mendapatkan rasa pedas yang lebih menggigit. Potongan-potongan kelapa muda juga ada di dalam minuman ini, sehingga rasanya lebih enak dan renyah. Adon-adon coro bisa dinikmati malam hari di sekitar SCJ (Shopping Center Jepara). Harganya cukup murah untuk seporsinya.
Read More

Selasa, 16 September 2014

Penghuni Rumah Yang Sangat Bermanfaat

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Apa yang terbayang dalam benak kalian bila melihat ini?

Kemungkinan besar pasti membayangkan rumah burung, atau lebih parah lagi rumah kucing. Sayangnya, ini bukan rumah burung atau kucing. Namun, ini merupakan rumah bagi buku-buku tak bertuan. Bisa disebut seperti itu, karena memang buku-buku ini tak lagi memiliki pemilik dan menjadi milik umum/bersama.

Rumah Buku hadis di Semarang sekitar tahun 2013. Rumah ini merupakan sumbangan dari salah satu anggota dari Goodreads Jakarta sebagai perpustakaan kecil yang dibebaskan. Maksudnya bebas di sini adalah bahwa rumah buku ini menjadi hak milik umum dan bisa diakses oleh siapa pun. Dengan adanya rumah buku ini, diharapkan masyarakat umum pun bisa ketularan dalam membaca, sehingga minat baca masyarakat meningkat.

Aturan dalam rumah buku ini luwes. Buku yang ada di dalam rumah baca boleh diambil untuk dibaca, tetapi tidak boleh diambil. Kita bisa menukar buku ke dalam rumah buku juga. Sayangnya, tidak semua orang mematuhi hal tersebut. Ada saja yang melanggarnya yaitu dengan mencuri buku-buku tersebut. Bahkan, yang lebih tragis lagi, kaca maupun tiang dari rumah buku ini dicuri. Sayang sekali.

Sekarang, Rumah Buku ditarik dan disimpan untuk sementara waktu. Benda yang pernah menjadi penghias di taman Srigunting di kota lama ini dalam masa perbaikan untuk kelak bisa digunakan kembali oleh masyarakat umum.

Read More

Pameran Arsip dan Perpustakaan se-Jawa Tengah

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Tanggal 16-18 September ini, bertempat di gedung wanita Semarang diselenggarakan sebuah pameran mengenai arsip dan perpustakaan se-Jawa Tengah. Dalam pameran ini ada cukup banyak perpustakaan serta arsip daerah yang ikut serta, seperti stand provinsi Jawa Tengah, Magelang, kudus, serta Semarang, dan lain sebagainya.

Tiap-tiap dari kantor arsip dan perpustakaan tersebut memiliki ciri khas sendiri-sendiri, seperti kantor arsip dan perpustakaan dari Kudus yang memajang sebuah Al Qur’an yang cukup besar. Kemudian ada kantor arsip dan perpustakaan provinsi Jawa Tengah yang memajang foto-foto dan buku-buku lama mengenai Semarang maupun Jawa Tengah secara keseluruhan.

Selain itu, ada pula beberapa toko buku yang ikut dalam pameran ini seperti toko buku Raja Murah, Divapress, Gramedia. Kemudian ada stan komunitas dari sebuah komunitas baca bernama Goodreads Indonesia Semarang, yang memamerkan beberapa koleksi buku-bukunya serta menjual buku-buku second yang murah.


Buku-buku yang ada di bawah merupakan buku-buku koleksi dari anggota Goodreads Indonesia Semarang.



Read More

Senin, 15 September 2014

Kampung Rawa : Makan sambil Mengapung di Ambarawa

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Usai pergi dari Cimory, tanpa mencicipi makanan di sana, saya pun langsung tancap gas menuju ke Kampung Rawa. Dalm hati, saya berharap bisa mendapat makanan enak, murah, dan merupakan porsi keluarga. Biasalah, kantung mahasiswa di semester akhir itu biasanya cekak, alias banyak keringnya. Apalagi adik sepupu sudah merekomendasikan tempat ini. Maka..., saya pun makin bersemangat menuju ke sana.

Sebetulnya, antara Cimory – Kampung Rawa ini tidak terlalu jauh. Jaraknya mungkin sekitar 30 menit perjalanan atau 20 menitan, bila tidak macet. Letak Cimory memang berdekata dengan pertigaan yang menuju Salatiga serta Yogyakarta. Dengan hati riang, karena sehabis melihat pemandangan indah di Cimory, saya pun bergegas pergi ke sana. Bayang-bayang makanan yang enak, terutama udang bakar, membuat saya makin tidak sabar. Perlu diketahui, saya sampai rela tidak sarapan hanya karena mau wisata kuliner di kampung Rawa. :))

Tak berapa lama, kami pun sampai di sana. Angin besar yang bertiup langsung menyambut kedatangan kami. Cuaca tak berbeda jauh dari Cimory, terasa sejuk tetapi juga panas. Di sekitar kami, saya bisa melihat rawa pening yang begitu luas. Iya, tempat ini memang berada di sekitar danau rawa pening yang menjadi tempat menggantungkan hidup bagi penduduk sekitarnya. Saya dan yang lainnya pun memutuskan untuk masuk ke restoran terapung. Kami berdua naik semacam apa ya... kapal-kapalan kecil untuk menyebrang sampai di restoran. Sensai pertama ketika menginjakkan kaki di restoran itu adalah... pusing.

Bagaimana tidak? Hampir setiap kali kami berjalan, jalannya bergoyang ke kiri dan ke kanan, siapa pun rasanya pasti mual kalau goyang ke sana-ke sini terus-menerus. Kemudian, kami pun memilih tempat di sebuah bilik kecil yang ada di luar restoran. Dari sini, kami bisa melihat keindahan rawa pening. (Bagi yang masuk angin, hati-hati kalau memilih makan di luar area, seoalnya anginnya kencang, tahu-tahu malah masuk angin dan pilek seperti saya karena ndak tahan anginnya).

Kami memesan makanan paketan. Jujur, sewaktu buka menu dan melihat daftar harga, saya kaget karena harganya lebih mahal dari Cimory. (Tahu gitu saya nyicip makan di Cimory aja. Samapi sekarang nyesel, nggak icap-icip di sana :( ). Yang lebih mengesalkan lagi, dengan pelayanannya yang kurang mengenakkan. Masakannya pun kurang sedap. Padahal..., beberapa kawan bilang makanan di sini enak. Tapi saya malah tidak merasakan itu. Saat meninggalkan tempat tersebut, saya cukup kecewa, meski... yah... mau bagaimana lagi.

Semoga pelayanan dan makanan di sana bertambah enak. Ada yang mau mencoba? :D


Read More

Cimory Bawen, Tempat Rekomendasi Wisata Keluarga

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

2013 lalu, ada salah satu restoran dari Bogor yang lumayan terkenal, bernama Cimory akan hadir di Semarang, ehm... sebenarnya tidak tepat jika berada di Semarang, melainkan berada di Bawen, yang masih termasuk kabupaten Semarang. Yah, seperti orang-orang kebanyakan, yang selalu tertarik dengan hal-hal baru, saya pun merencanakan hendak pergi ke tempat tersebut bersama saudara sepupu saya. Apalagi kalau bukan untuk memuaskan rasa penasaran saya.

Pada suatu minggu, akhirnya saya pun berangkat menuju ke Cimory Bawen bersama adik sepupu serta kedua teman saya. Saya sengaja memilih waktu pagi agar tidak terjebak macet maupun keramaian di tempat yang saya tuju. Iya..., saya tidak suka ramai dan macet, terutama di daerah Bawen sana mobil-mobil yang lewat pun bukan hanya mobil pribadi, melainkan juga bus, tronton, truk batu dan pasir. Bisa dibayangkan, kan, bagaimana rasanya kalau terjebak macet dengan motor-motor seperti itu?

Akhirnya, sekitar pukul 10 kami tiba di sana. Suasana cukup sejuk dan dingin. Daerah ungaran, mbawen memang daerah pegunungan. Suasananya nyaman dan enak. Yang perlu dicatat hanya satu hal, tempat ini pun juga terasa panas. Sejuk tapi panas. Di Cimory, saya menemukan ada dua buah bangunan di bagian depan, setelah tempat parkir mobil. Yang pertama supermarket berisi tempat jualan olahan dari sapi, sedangkan di sisi kanan, kalau tidak salah merupakan restorannya. Kami tidak memilih ke restoran tersebut karena berniat untuk makan di Kampung Rawa yang ada di daerah Ambarawa, tepatnya di jalur lingkar luarnya.


Cimory lumayan enak. Ada taman, tempat bermain untuk anak kecil, ada sebuah peternakan kecil-kecil berisi sapi totol item-putih, kemudian kandangan kelinci yang gemuk ginuk-ginuk, dan beberapa binatang lainnya. Tempat ini disarankan untuk menjadi tempat wisata keluarga, terutama anak-anak. Mereka pasti senang bertemu dengan hewa-hewan di sini. Kalau saya, mah..., hehehe....
Read More

Jumat, 12 September 2014

Gereja Blenduk Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Gereja Blenduk, salah satu bangunan yang menjadi ikon di kota Lama semarang. Usia Gereja ini cukup tua. Pertama kali dibangun, bentuknya pun tidak seperti sekarang ini. Bentuknya seperti rumah panggung dengan atap sesuai dengan arsitektur Jawa Kemudian, bangunan itu pun dirombak dan dijadikan seperti yang sekarang. Gedung ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas, dengan dua menara dan atap kubah. Keterangan mengenai Wilde dan Wetmas tertulis pada kolom di belakang mimbar.

Bangunan Gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Bangunan ini menghadap ke Selatan. Lantai bangunan hampir sama tinggi dengan jalan di depannya. Pondasi yang digunakan terbuat dari batu dan sistem strukturnya dari bata. Dinding terbuat dari bata setebal satu batu. Atap bangunan berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk oleh usuk kayu jati. Di bawah pengakiran kubah terdapat lubang cahaya yang menyinari ruang dalam yang luas. Di depan Gereja Blenduk terdapat taman Srigunting dan di sisi yang lain merupakan jalan pada yang sering dilewati banyak mobil. 


Jika merasa lelah atau sedang berjalan-jalan di sekitar kota Lama, sempatkan untuk mampir ke taman Srigunting dan menikmati keindahan Gereja Blenduk serta angin silir dari taman. Di sana tempat yang menyenangkan untuk berkumpul, meski agak berisik karena salah satu sisi jalan merupakan lalu lintas utama dari arah utara.

(Foto dari berbagai sumber)
Read More

BonBin Mangkang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Namanya adalah Taman Margasatwa Semarang, tapi orang-orang kadang menyebutnya sebagai Kebun Binatang Mangkang, karena letaknya yang ada di pinggir barat ibu kota Semarang, yaitu daerah Mangkang. Taman Margasatwa Semarang dulunya tidak bernama taman Margasatwa Semarang, melainkan lanjutan dari Taman Hiburan Rakyat. Dulunya, pun tidak bertempat di Mangkang, melainkan di TBRS atau Taman Budaya Raden Saleh.

Sejak 28 Februari 2007, barulah kebun binatang itu resmi dipindahkan ke daerah Mangkang yang jauh lebih luas dan lapang. Selain sebagai tempat rekreasi, kebun binatang Mangkang ini pun dijadikan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai macam jenis satwa-satwa. Ada rusa, kancil, gajah, dan berbagai macam jenis burung yang disertai penjelas serta nama latin dari setiap binatang tersebut.


Di sana juga disediakan beberapa macam jenis permainan. Kita bisa naik ke atas punggung gajah sambil berjalan-jalan, kemudian menyusuri danau buatan sambil ditemani burung pelikan, atau bermain di waterboom. Kebun Binatang Mangkang buka setiap hari, tapi jika di hari libur maka bersiap-siaplah dengan keramaian yang ada di sana.


Read More

Kamis, 11 September 2014

Banjir Kanal Barat Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Sebelumnya, Banjir Kanal Barat tidak memiliki rupa seperti ini. Namun, beberapa tahun yang lalu, sungai ini diperbaiki dan dirombak sedemikian rupa hingga berubah menjadi sangat cantik dan indah dipandang, bahkan... sekarang bisa menjadi tempat penyelenggaran sebuah festival yang bernama festival Banjir Kanal Barat.

Banjir Kanal Barat merupakan sungai terpanjang di kota Semarang yang menjadi gabungan sungai garang, kreo, dan kripik yang berasal dari ungaran dan berfungsi sebagai pengendali banjir utama di kota Semarang. Sebelum dibenahi dan ditata, Banjir Kanal Barat terlihat sangat tidakmenarik untuk menjadi tempat wisata. Banyak semak- ilalang yang tinggi dan pinggirannya juga kotor. Namun, sekarang, semak – ilalang telah dibersihkan. Area pinggiran pun ditata sedemikian rupa hingga menjadi arena berkumpul yang nyaman. Keadaan di sekitar terlihat bersih, sehingga membuat siapa pun senang berkunjung ke sana. Apalagi ada beberapa taman di sekitar sungai ini.


Untuk semakin menyemarakkan keadaan di sekitar sungai ini, maka diadakanlah festival Banjir Kanal Barat, semacam festival perahu hias dan lampion yang selalu ramai dengan kedatangan pengunjung. Selain festival perahu hias, ada juga festival kuliner, pagelaran wayang, dan lain sebagainya. Sangat disayangkan kalai melewatkan acara ini. Namun, hati-hati saat berkunjung ke festival Banjir Kanal Barat, jika anda membawa mobil atau motor, maka bersiaplah untuk menghadapi macet yang lumayan panjang dan lama.
Read More

Marina Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Meski merupakan hasil reklamasi (pengurukan) di wilayah kota Semarang, keindahan pantai Marina tak kalah dengan keindahan pantai-pantai alami pada umumnya. Pantai yang letaknya di dekat PRPP itu elok dipandang dan enak untuk menjadi tempat bersantai. Selain suasana yang tenang, angin semilir dari arah laut pun sering berembus, hingga menimbulkan suasana sejuk. Banyaknya pepohonan di pinggir pantai membuat para pengunjung bisa berteduh dari sengatan sinar matahari.

Pantai Marina terletak persis di seberang Pantai Maron, pantai yang ada di wilayah Bandara Ahmad Yani. Di Marina, ada semacam beton yang mengitari tepi pantai yang berguna untuk menahan abrasi pantai serta menjadi pemecah gelombang. Selain itu, pemecah gelombang itu pun bermanfaat untuk memudahkan kapal-kapal supaya bersandar di pelabuhan. Pantai Marina memang memiliki sebuah pelabuhan untuk kapal-kapal ukuran kecil sampai sedang. Di sana, kita pun bisa menyewa kapal untuk sekedar berputar-putar di sekitar pantai. Semakin banyak orang yang ikut dalam perjalanan itu, biasanya, harga sewa kapal pun akan semakin murah.

Untuk menjangkau Marina tidak terlalu sulit, hanya perlu sedikit usaha apalagi yang belum terbiasa dengan jalan Semarang. Dari arah kota Semarang, kita hanya perlu lurus terus mengikuti jalan, tak perlu belok-belok. Saat menemukan lampu merah pertama (yang mana bila berbelok ke kanan ikuti lampu, sedangkan bila lurus akan menuju ke arah bandara), kita bisa berbelok ke kanan. Lurus terus ikut jalan hingga sampai ke puri Anjasmoro. Kemudian ketika menemukan perempatan dan lampu merah lagi, maka belok ke kanan. Lurus terus kemudian ambil kiri dan terus saja ikuti jalan.

Jalan menuju ke pantai Marina memang tidak mudah. Bahkan, yang pernah datang ke sana (walau sesekali) masih sering kebingungan untuk menuju tempat itu, apalagi dengan petunjuk jalan yang minim.
Read More

Rabu, 10 September 2014

Lontong Tahu Gimbal Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata Gimbal? Pasti yang terbayang adalah rambut gimbal dan mungkin saja dataran tinggi Dieng. Namun, Gimbal yang ini jauh berbeda dari gimbal yang ‘itu’. Ini bukan rambut, melainkan makanan. Di Semarang, Gimbal merupakan sejenis kerupuk udang. Kerupuknya berbeda dari kerupuk yang keras dan ‘kriuk’, gimbal memiliki tekstur yang agak tebal tapi tak setebal bakwan, dan... benar-benar ada udangnya di kerupuknya, jadi udangnya tidak melebur jadi satu dengan tepungnya.

Racikan lontong tahu Gimbal cukup sederhana. Makanannya terdiri dari lontong, kol segar, tahu, tauge (jika ada), seledri, gimbal, telur, kemudian bumbu kacang. Makanan khas kota Semarang ini paling mudah dijumpai di Taman KB dan sekitarnya. Harganya cukup bervariasi antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Walau semua terlihat sama, tetapi rasa yang tercipta dari tiap-tiap pembuat bisa terasa sangat berbeda.

Racikan bumbu dari tiap-tiap penjualnya ini yang membuat rasa tiap lontong tahu gimbal yang berbeda-beda. Di Taman KB sendiri, lontong tahu gimbal yang paling terkenal adalah lontong Tahu Gimbal Pak Edy. Sementara, ada lagi lontong tahu Gimbal di daerah plampitan bernama Lontong Tahu Gimbal Pak Man. Jika memilih makan Tahu Gimbal di taman KB, jangan lupa memesan es campur atau es duren juga. Makan tahu Gimbal kurang lengkap rasanya kalau tanpa itu.




Read More

Mie Kopyok Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Pernah dengar nama Mie Kopyok? Mungkin belum pernah dengar. Sudah bisa membayangkan seperti apa bentuk mie kopyok itu? (Tolong jangan dibayangkan kalau mie kopyok itu sejenis dengan Mie yang di-kopyok-kopyok, ya. Itu beda.). Mie Kopyok atau bisa juga disebut sebagai Mie Lontong merupakan salah satu kuliner yang ada di Semarang. Kata kopyok sendiri merupakan istilah karena cara memasak mie-nya yang harus di-kopyok lebih dahulu sebelum dihidangkan.

Makanan yang terdiri dari bakmi yang kelihatan seperti bakmi jawa, tauge atau kecambah, tahu, dan lontong ini merupakan penganan yang enak dimakan, terutama saat lapar. Cara membuatnya mudah saja. Tauge dan bakmi direbus secara bersamaan, lontong dipotong-potong kecil bersama tahu, setelah tauge dan bakmi matang, langsung saja ditarung ke atas potongan lontong dan tahu. Baru tambahkan bumbu, kerupuk gendar, kecap, dan bagi yang doyan pedas, tinggal diberi ulekan lombok setan.

Dulunya, mie kopyok merupakan penganan atau dianggap sebagai jajanan saja. Pada era tahun 70-80an, kebanyakan penjual mie kopyok menjajakan dagangannya dengan cara dipikul berkeliling. Namun, semakin lama, sekarang bisa ditemukan beberapa penjual mie kopyok yang menetap di salah satu tempat. Selain itu, makanan ini yang dulunya makanan ringan sekarang bergeser menjadi makanan utama yang disantap oleh masyarakat.

Harga seporsi mie kopyok bisa dibilang murah. Di pedagang keliling, biasanya sepiring mie kopyok biasa dijual sekitar Rp 7000 – Rp 8000. Rekues lontong 1, hanya menambah sekitar 1000-an. Rasanya pun mantap, antara manis dan gurih.

Read More

Selasa, 09 September 2014

Pantai Kartini Jepara

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Selain terkenal dengan ukirannya, Jepara juga memiliki pantai yang cantik seperti Pantai Kartini dan Bandengan. Pantai Kartini terletak sekitar 2,5 km dari pendopo kabupaten atau pusat kota Jepara. Pantai ini berada di area kawasan Bulu Jepara. Selain sebagai objek wisata kota, pantai Kartini juga dimanfaatkan sebagai dermaga, yang menjadi tempat sandaran kapal feri yang akan menuju ke pulau karimun jawa.

Untuk pengunjung yang masuk ke pantai kartini, biasanya harus membayar sekitar Rp 5000. Begitu masuk kawasan, banyak dijumpai penyewaan sepeda, scooter, sampai motor mini yang bisa disewa. Banyak pula warung-warung makan serta penyewaan kamar kecil untuk bilas & mandi setelah bermain di pantai. Ada beberapa penginapan juga yang bisa dijumpai, walau tidak besar.

Selain bisa melihat laut, di pantai kartini ada wahana tempat wisata bernama kura-kura oceanpark, sebuah tempat berisi akuarium-akuarium yang diisi dengan berbagai macam jenis biota laut. Tiket masuk ke kura-kura Ocean park bergantung dengan harinya. Bila hari libur, tiket masuk untuk orang dewasa sekitar Rp 17.500, sedangkan bila hari biasa tiket yang dijual di sana hanya Rp 12.500 saja.

Di samping kura-kura Ocean park, terdapat pedagang-pedagang makanan dari mulai rujak buah, es kelapa muda, sampai bakso bisa ditemui di sana. Sambil menyantap makanan, kita bisa melihat ke arah pantai, karena berada di area terbuka yang cukup teduh, sehingga kita tidak perlu kepanasan saat beristirahat di area itu.
Read More

Ukiran Jepara

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Sebelum agama islam masuk ke pulau jawa, orang-orang di negara kita pada waktu itu telah mengenal seni memahat atau pun seni mematung. Begitu pula daerah Jepara, kota yang terletak persis di pesisir utara pulau jawa. Kota itu dulunya merupakan pelabuhan besar yang menjadi pusat persinggahan kapal-kapal dagang yang berlalu-lintas di area laut jawa. Setelah agama islam masuk ke nusantara, seni memahat dan membuat patung pun mengalami perubahan

Di dalam agama Islam, dilarang untuk membuat bentuk-bentuk makhluk hidup yang mirip dengan aslinya, karena ada ayat yang menegaskan bahwa si pembuat patung-patung tersebut akan dipaksa untuk memberikan nyawa pada patung-patung ciptaannya. Sehingga, terciptalah seni-seni ukiran dengan motif-motif klasik yang sangat indah, seperti motif asli jepara.


Ukiran asli Jepara memiliki motif Jumbai atau ujung relung dimana daunnya seperti kipas yang sedang terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing. Dan juga ada buah tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun. Selain itu, tangkai relungnya memutar dengan gaya memanjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil yang mengisi ruang atau hanya untuk memperindah. Selain motif Jepara, ada pula motif-motif lain seperti motif majapahit, motif bali, bahkan motif madura. Namun untuk sekarang, kebanyakan yang diproduksi adalah mebel-mebel berdesain minimalis.





Ada beberapa sentra ukir di kota ini, salah satunya adalah di mulioharjo. Di sana kita bisa menemukan barang-barang kerajinan dipajang hampir di setiap rumah. Dari patung-patung kuda yang realis sampai kursi-kursi atau meja dengan desain yang unik, contohnya adalah meja yang terbuat dari akar. Jika menyempatkan diri ke Jepara, jangan lupa beli oleh-oleh cinderamata buah tangan berupa pajangan kayu. Di sekitar daerah, sebelum tahunan, terdapat deretan toko-toko yang menjual berbagai produk kerajinan, mulai dari kaligrafi, jam, kursi, maupun pajangan-pajangan lain yang terbuat dari kayu. Harganya juga bervariasi, ada yang puluhan ribu sampai jutaan pun ada di sana. 

Read More