Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2014

Tahap-tahap Penulisan (2)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Di artikel sebelumnya, tertulis mengenai tahap prapenulisan. Sekarang, kita masuk ke tahap penulisa. Di tahap ini bahan-bahan yang sebelum ada di tahap prapenulisan akan segera dituangkan dalam bentuk tulisan.

Kerangka yang telah dibentuk mulai dijadikan sebagai rangkaian cerita yang menjadi satu kesatuan yang nyata. Dengan berpedoman pada karangan, kita bisa mengetahui patok-patok mana yang harus dipatuhi, mana patok cerita yang melanggar dari kerangka itu sendiri. Pengekspresian ide pada tahap penulisan ini membutuhkan dorongan, semangat, dan ketelatenan dari penulis sendiri. Karena tidak jarang, saat menulis sebuah cerita, penulis mendadak tidak mood, merasa frustasi, jengkel, dan akhirnya tidak lagi melanjutkan naskah ceritanya.

Musuh utama pada seorang penulis adalah dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengendalikan kemalasan serta rasa frustasi karena kejengkelannya akibat naskahnya tidak selesai juga. Disarankan, bila memang penulis tengah mengalami writer’s block, untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan tulisannya. Hal itu dilakukan, supaya si penulis tidak menghancurkan karyanya sendiri, karena... saat dalam emosi labil atau tekanan, kemungkinan si penulis menganggap karyanya sangat buruk, pasti sangat besar.

Namun, bukankah karya pertama memang tidak dimaksudkan untuk menjadi yang terbaik?

Di sinilah, revisi akan berperan. Setelah tahap penulisan dan penulis berhasil menyelesaikan naskah ceritanya, maka dimulailah tahap merevisi naskah. Disarankan untuk mengambil tenggat waktu dari selesai penulisan dan awal mulai untuk mengedit. Di revisi ini, penulisa akan membaca tulisan berulang-ulang, membereskan cerita yang kurang masuk akal, menambahi atau menambal bagian-bagian cerita yang dirasa kurang memuaskan, kemudian memotong atau memangkas cerita yang dianggap tidak perlu. Dari sini, proses kreatif kedua dijalankan.

Pada tahap revisi, penulis jauh lebih banyak berpikir dibanding saat menulis naskah pertamanya. Di sini, penulis pun dituntut untuk selalu sabar dan telaten dalam menghasapi naskahnya. Untuk menghasilkan naskah yang baik, memang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, ketika kita berhasil menyelesaikan satu naskah dan memolesnya menjadi yang terbaik, akan ada rasa bangga dan bahagia dengan hasil karya tersebut. Terutama ketika karya kita diterima oleh penerbit Mayor.

Selamat menulis!
Read More

Tahap-tahap Menulis (1)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Menulis adalah sebuah proses kreatif, imajinatif, dan melalui hasil pemikiran serta perenungan dari si penulis itu sendiri. Sebagai suatu proses, menulis memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Prapenulisan
2. Penulisan
3. Revisi

Pada tahap prapenulisan, proses menulis terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu, pemilihan dan penetapan topik tulisan, menentukan tujuan dan bentuk karangan, mencari dasar bahan penulisan, menyusun kerangka karangan tersebut. Pada bagian pemilihan dan penetapan topik penulisan, kita perlu memperhatikannya dengan baik, karena ini bagian yang penting, menentukan arah atau isi dari karangan kita sendiri. Hal ini dikarenakan pemilihan topik menjadi dasar untuk membangun tulisan tersebut.

Kemudian menentukan tujuan dan bentuk karangan. Dengan menentukan tujuan penulisan, penulis akan lebih mudah mengetahui apa yang ingin dikerjakannya dalam tahap penulisan. Tulisan tersebut nantinya bisa diperluas atau bahkan dipersempit. Lalu ada lagi mencari bahan dasar untuk penulisan. Kita membutuhkan sesuatu untuk menjadi bahan dasar tulisan. Seperti yang pernah dikatakan, menulis dan membaca aalah dua hal yang berdampingan. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa menulis. Karena dari bacaan-bacaan-lah kita bisa mengetahui dan memahami apa yang ingin kita utarakan dalam sebuah tulisan.

Yang terakhir pada tahap prapenulisan adalah membuat kerangka karangan. Percayalah bahwa ini pun menjadi yang paling penting. Saat kalian diburu waktu, diberi tekanan untuk segera menyelesaikan cerita, kerangka karangan akan memudahkan kalian dalam menyelesaikan naskah. Kerangka karangan berisi garis besar cerita dari awal sampai akhir. Dan kita bisa membuat patokan-patokan yang akan dipatuhi per bagian cerita dalam karangan. Dengan adanya kerangka, ini memudahkan pekerjaan kita dalam menulis serta mengingatkan seandainya kita teledor dalam mempertahankan logika cerita.
Read More

Rabu, 24 September 2014

Mari Membaca!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Berapa jumlah buku dalam setahun yang kalian selesaikan?

50 buku? Tidak? Oh..., mungkin 30? Masih tidak juga? Jadi, berapa? 1 buah buku?

Itu bagus. Setidaknya kalian menyelesaikan satu buah buku bacaan dari pada tidak sama sekali. Namun, apakah konteks membaca itu hanya diukur dari buku? Sebenarnya tidak juga. Karena dari media koran atau online pun sebenarnya kita pun membaca. Buku atau media apa pun yang menjadi sarana bacaan kita, sebetulnya adalah media pembelajaran pula pada kita.

Dari bahan bacaan, kita mendapat tambahan pengetahuan. Dengan semakin banyak membaca buku, maka kita semakin belajar untuk bertambah kritis dan mengamati sesuatu dengan lebih detail lagi. Dengan membaca, pikiran kita juga terlatih untuk mengalisis sesuatu. Tentunya ini suatu hal yang menguntungkan bukan?

Selain menambah pengetahuan dan mengasah daya analisis kita, membaca juga apat meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan. Kemudian menjauhkan otak dari penyakit Alzheimer maupun bisa menjadi sarana untuk pengembangan diri.

Jadi tunggu apa lagi? Mari membaca dan tingkatkan wawasan mengenai dunia!
Read More