Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edukasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Oktober 2014

Kucing Kampung : Tidak Diminati, tapi Selalu Menarik Untuk Dielus

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Kucing kampung merupakan kucing yang mudah untuk dipelihara. Selain itu, kucing ini pun jarang diminati orang, sehingga kesempatan dicuri orang pun sangat jarang. Kucing-kucing ini juga memiliki kecenderungan untuk ngeluyur dan pergi seenaknya dari rumah yang punya. Tiap-tiap kucing kampung memiliki corak sendiri, ada yang belang hitam putih, ada yang warnanya oranye-putih, kucing telon, kucing hitam, atau kucing berwarna kluwak juga.

Sering kita sebut kucing ini sebagai kucing garong karena sikapnya yang memang agresif dan suka mencakar. Sebenarnya, kucing-kucing ini biasanya pengin main, tetapi karena nggak ditanggapi, akhirnya mereka suka cari perhatian dengan mencakar atau mungkin merusak perabotan rumah kalau mereka sedang agresif.

Untuk makanannya, kucing kampung terbilang gampang. Berbeda dari kucing ras yang membutuhkan perawatan macam-macam, kucing kampung biasanya tinggal diberi makan nasi dengan ikan dan kuah ikan saja sudah mau makan. Untuk urusan pup, kalau memang di sekitar rumah tidak ada tanah, lebih baik menyediakan pasir kucing, supaya kucing-kucing juga lebih sehat.
Read More

Anggora dan Persia

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Ras Kucing Persia dan Anggora sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Setidaknya, ketika saya bilang kalau saya pelihara kucing, pasti yang pertama kali ditanya adalah ‘kucing anggora atau persia?’ Saya cuma bisa nyengir, kalau yang saya pelihara adalah 4 kucing kampung. Yah, bisa dibilang, kucing kampung tidak terlalu diperhatikan orang, karena mungkin dianggap sebagai pengganggu. Kucing saya saja pernah ditendang orang, sampai tahu-tahu ketika pulang dia sudah megap-megap kayak orang mau mati. Untung saja, kucing saya sekarang baik-baik saja.

Di antara kucing-kucing ras lainnya, Anggora dan Persia sangat terkenal, harganya mahal, dan perawatannya bisa dibilang membutuhkan ketelatenan. Baik makanannya, kesehatannya, kebersihan tempat pupnya, harus diperhatikan dengan baik. Karena bila tidak, si kucing bisa sakit dan dibawa ke dokter. Biaya dokter hewan lumayan mahal euy. Ada perbedaan antara kucing anggora dan persia, meski mereka sama-sama kucing ras yang menawan.

Kucing Persia cenderung gemuk dan pendek dengan bulu-bulu yang tebal. Saking tebal bulunya, sekilas tampaknya kucing ini tidak berleher. Bentuk wajahnya bulat, memiliki hidung pesek dan lucu. Ekornya memanjang dan ditumbuhi bulu tebal pula. Kucing Persia ini lebih imut karena berbulu tebal dan pendek.

Ciri fisik lain yang diiliki kucing Persia adalah mata yang membulat, lebar dengan warna mata yang kurang tajam. Telinganya lebar pada bagian bawah dan membulat di bagian atas. Bagian dahi, hidung dan dagu membentuk garis tegak lurus. Kaki kucing Persia juga pendek, namun kokoh dan besar dengan cakar membulat dan besar.

Kucing Persia berasal dari daerah Persia, yaitu perbatasan Turki yang kini dikenal dengan Negara Iran. Sifak kucing ini lembut, patuh, dan tidak banyak bergerak. Perangainya yang kalem itu sangat cocok untuk dipelihara di dalam rumah. Hal ini berbeda dengan kucing lokal yang cenderung arogan dan nakal.

Kucing Anggora berasal dari wilayah Turki yang dulu bernama Anggora. Sekilas kucing Anggora mirip dengan kucing lokal, namun memiliki bulu tebal dan ekor panjang seperti musang. Bentuk kepalanya lonjong atua hampir berbentuk segitiga dengan hidung mancung. Matanya tajam dan menyorotkan sinar terang. Telinganya panjang dan meruncing di bagian ujung. Bulu muka kucing Anggora tidak setebal kucing Persia sehingga bila dilihat mukanya saja kucing ini mirip kucing local.

Secara sifat kucing Anggora sangat berbeda dengan kucing Persia. Bila kucing Persia terkenal imut, kalem, dan lembut, kucing Anggora lebih dominan dengan sifat cerdasnya. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga sedikit lebih gesit. Sikap sehari-hari kucing Persia dan Anggora pun berbeda. Kucing Persia berjalan lambat dengan kaki pendek dan manja. Namun, kucing Anggora lebih luwes saat berjalan seperti peragawati. Kucing Anggora sangat pintar berpose sehingga terlihat menggemaskan.

Kedua kucing di atas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Biasanya, pemelihara akan memilih kucing berdasarkan kebutuhannya. Baik kucing Anggora dan Persia, tetap harus dirawat dengan maksimal bila ingin tetap sehat dan lucu.
Read More

Jumat, 03 Oktober 2014

Bunga-bunga Yang Menyehatkan bagian 2

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Selain mawar dan melati, adalagi bunga matahari, ciplukan, kembang sepatu, juga kenanga. Masing-masing dari bunga-bunga ini memiliki khasiatnya sendiri. Bunga Matahari atau Helianthus annuus bisa digunakan untuk penyakit disentri, kencing batu, radang payudara, rematik, sakit kepala, maupun susah buang air besar atau air kecil.  Bagian yang digunakan dari bunga matahari adalah seluruh bagian tumbuhannya. Ada catatan kecil, bahwa wanita hamil di larang untuk meminum ramuan bunga matahari ini.


Lalu ada juga ciplukan. Tahu ciplukan? Mungkin sekarang kita sudah jarang melihat tanaman ini, padahal, tanaman ini biasanya tumbuh subur dan banyak di sawah-sawah. Buahnya bisa dimakan dan rasanya biasa, tidak terlalu manis, tapi juga tidak asam maupun tidak pahit. Buahnya enak dan banyak airnya. Ciplukan memiliki manfaat untuk penyakit ayan, bisul, borok, influenza, kencing manis, maupun sakit paru-paru. Bagian yang digunakan untuk penyakit adalah akar, daun, dan buah.


Kemudian ada juga Kembang Sepatu. Dari buku “262 Tumbuhan Obat & Khasiatnya” karangan Drs. H. Arief Hariana, terbitan Penebar Swadaya, memiliki banyak khasiat untuk menyembukan batuk lendir dan darah, batuk rejan, demam karena malaria, gondongan, infeksi saluran kemih, keputihan, mimisan, radang selaput mata, sariawan, dan tubercolusis. Bagian yang dimanfaatkan adalah bunga dan daunnya, baik yang segar atau pun kering.



Kenanga pun ternyata juga memiliki khasiat atau manfaat mengobati. Bunga berbau wangi dan biasa disatukan dengan kembang mawar dan melati ini bisa dimanfaatkan untuk penyakit bronkitis, kudis, malaria dan asma, maupun sesak napas. Sebenarnya, masih banyak lagi tumbuhan atau tanaman di sekitar kita yang beranfaat untuk pengobatan, tetapi terkadang kita tidak tahu saja apa manfaatnya.
Read More

Kamis, 02 Oktober 2014

Manfaat beberapa macam buah yang Kita kenal : Bengkoang, Belimbing manis, Belimbing Wuluh

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Bengkoang
Bengkuang atau lebih sering dibilang bengkoang sering dijual di tukang rujak dengan berbagai macam buah lainnya dan dicocol dengan saus gula merah yang kental dan manis. Di kosmetik-kosmetik kecantikan, bengkoang juga dimanfaatkan sebuah masker alami atau sabun pemutih juga.

Dalam buku “262 Tumbuhan Obat & Khasiatnya” karangan Drs. H. Arief Hariana, terbitan Penebar Swadaya, Bengkoang memiliki andungan pachyrhizon, rotenon, vitamin B1, dan vitamin C. Daun dan bijinya mengandung saponin dan flavonoid, sedangkan umbinya mengandung protein, fosfor, besi, vitamin A, B1, dan C. Akan tetapi, biji dan daunnya mengandung racun. Karena  patut diperhatikan dalam menggunakan tumbuhan bengkoang ini. Bengkoang memiliki manfaat untuk penyakit beri-beri, Demam, diabetes Melitus, Panyakit kulit dan eksim, Sariawan serta Wasir.



Belimbing Manis
Masih dari buku yang sama, saya ingin mengulas sedikit mengenai belimbing manis.
Belimbing manis yang memiliki nama latin Averrhoa carambola L. memiliki rasa asam dan manis. Bunganya punya rasa manis, netral, sedangkan batang, daun, dan akarnya memiliki rasa asam, kelat, dan netral. Belimbing manis yang bisa kita jumpai di pasar dan (lagi-lagi bisa kita temukan di abang-abang penjual rujak), memiliki manfaat dan kegunaan antara lain untuk diabetes melitus, kolesterol, darah tinggi, influenza, kencing batu, lever, malaria, serta sakit kepala kronis.



Belimbing Wuluh
Buah belimbing bentuknya lonjong, berwarna hijau dan rasanya benar-benar sangat asam dan tidak enak. Biasa dipakai oleh ibu-ibu rumah tangga untuk memasak sayur asam atau asem-asem. Belimbing Wuluh memiliki efek farmakologis di antaranya menghilangkan sakit, memperbanyak pengeluaran empedu, antiradang, peluruh kencing, dan pelembut wajah.

Bagian yang biasanya dipakai untuk mengobati penyakit adalah daun, bunga, dan buah. Penyakit yang bisa diobati seperti batuk, darah tinggi, jerawat, pegal linu, rematik, dan sakit gigi berlubang.
Read More

Manfaat Asam Jawa

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Kita tentu familiar dengan yang namanya asam atau lebih dikenal dengan sebuat asam jawa. Asam sering kali menjadi bahan dari makanan kita, seperti misalnya plecing kangkung atau dalam jamu kunir asam. Saya mengambil sebagian materi mengenai khasit asam jawa dari buku “262 Tumbuhan Obat & Khasiatnya” karangan Drs. H. Arief Hariana, terbitan Penebar Swadaya.


 Asam jawa yang memiliki nama ilmiah Tamarindus indica L. memiliki beberapa khasiat seperti untuk batuk, bisul, borok karena luka, gangguan pencernaan, karang gigi, menurunkan berat badan, mencegah rambut rontok, maupun sariawan. Namun, perlu diingat satu hal. Ada catatan khusus di mana wanita hamil dilarang memakan buah asam jawa yang tua. Saya akan sedikit share mengenai pembuatan ramuan untuk beberapa penyakit seperti sariawan, batuk, maupun mencegah rambut rontok.



.: Sariawan :.
Cuci bersih buah asam jawa atau bubuk kulit kayu asam jawa lalu campurkan dengan air secukupnya lalu gunakan untuk berkumur.

.: batuk :.
Cuci 10 gram daging buah asam, seduh dengan 1 gelas air panas, lalu minum bersama gula merah secukupnya 1 gelas sehari.

.: mencegah rambut rontok :.
Campur buah asam yang sudah masak dengansedikit air. Gunakan ramuan untuk mengurut kulit kepala, cuci dengan sampo, lalu bilas dengan air bersih.
Read More

Rabu, 01 Oktober 2014

Sastrawan-sastrawan Indonesia bagian 2

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



NH Dini
Nh. Dini merupakan singkatan dari Nurhayati Srihardini. Dia dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun. Pada usia itu ia telah menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.

Sebagai pengarang, Nh. Dini termasuk salah satu pengarang yang kreatif. Banyak karya yang telah ditulisnya, baik itu puisi, cerpen, maupun novel. Karya puisi yang telah ditulisnya ialah “Februari” (1956), “Pesan Ibu” (1956), “Kapal di Pelabuhan Semarang” (1956), “Kematian” (1968), “Berdua” (1958), “Surat Kepada Kawan” (1964), “Bertemu Kembali” (1964), “Dari Jendela” (1966), “Sahabat” (1968), “Kotaku” (1968), “Penggembala” (1968), “Terpendam” (1969), “Pulau yang Ditinggal” (1969), “Bulan di Abad yang Akan Datang” (1969), “Anakku Bertanya” (1969), “Tetangga” (1970), “Kelahiran ” (1970), “Burung Kecil” (1970), “Pagi Bersalju” (1970), “Sesaudara” (1970), “Jam Berdentang” (1970), “Musim Gugur di Hutan” (1970) “Penyapu Jalan di Paris” (1970), “Yang Telah Pergi”(1970), “Rinduku” (1970). “Tak Ada yang Kulupa” (1971), Le havre” (1971), “Paeis yang Kukenal” (1971), “Mimpi” (1971), “Dua yang Pokok” (1971), dan “Kemari Dekatkan Kursimu” (1971).

Cerita pendek yang ditulisnya terkumpul dalam tiga kumpulan cerita pendek, yaitu Dua Dunia (1956), Tuileries (1982), serta Segi dan Garis (1983). Kumpulan cerpen Dua Dunia terdiri atas tujuh cerpen, yaitu “Dua Dunia”, “Istri Prajurit”, “Djatayu”, “Kelahiran”, “Pendurhaka”, “Perempuan Warung, dan “Penemuan”. Kumpulan cerpen Tuileries terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Tuileries”, “Kucing”, “Pabrik”, “Hari Larut di Kampung Borjuis”, “Kalipasir”, “Jenazah”, “Pencakar Langit”, “Matinya Sebuah Pulau”, “Pasir Hewan”, “Burung Putih”, “Tanah yang Terjanjikan”, dan “Warga Kota”.Kumpulan cerpen Segi dan Garis terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Di Langit di Hati”, “Di Pondok Salju”, “Hujan”, “Ibu Jeantte”, “Janda Muda”, “Kebahagiaan”, “Keluar Tanah Air”, “Pandanaran”, “Penanggung Jawab Candi”, “Perjalanan”, “Sebuah Teluk”", dan “Wanita Siam”. Kumpulan cerpen yang lain ialah Liar (1989) (perubahan judul kumpulan cerpen Dua Dunia) dan Istri Konsul (1989)

Novel yang telah ditulisnya ialah Dua Dunia, (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Orang-Orang Trans (1985), Pertemuan Dua hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun (1993), dan Kemayoran (2000).



Widji Tukul
Wiji Thukul adalah seorang seniman cum aktivis yang turut dihilangkan secara paksa oleh rezim Orde Baru Soeharto karena aktifitas seni kerakyatannya dianggap provokatif, subversif dan mengancam stabilitas negara. Sejak masa remaja ia sudah aktif menggeluti dunia seni teater dan sastra. Karya-karya ciptaannya terkesan nyeleneh, karena tidak membicarakan keindahan, justru cenderung penuh dengan nada-nada protes akan kenyataan hidup kaum pinggiran yang begitu sulit dijalani. Berbeda dari kebanyakan seniman di masanya yang alergi pada politik, Wiji Thukul dengan tegas melibatkan diri dalam aktivitas politik pergerakan dan menentang keras rezim militeristik Orba yang telah menciptakan keterpurukan Bangsa dengan menghamba pada kepentingan imperium modal asing.

Wiji Thukul kini telah menjadi salah satu legenda dalam sejarah politik pergerakan di Indonesia.  “Hanya Ada Satu Kata : Lawan !” merupakan penggalan larik salah satu puisinya yang berjudul “Peringatan” telah menjelma ibarat kredo magis yang mampu membakar semangat bagi kaum aktivis pergerakan rakyat. Hingga sekarang, Ide dan cita-citanya masih terus hidup disuarakan lewat mulut-mulut manusia yang kian banyak membacai sajak-sajak miliknya. Bahkan sketsa gambar wajahnya pun telah menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan para penguasa yang menyengsarakan rakyatnya.

(Diolah dari berbagai sumber)
Read More

Sastrawan-Sastrawan Indonesia bagian 1

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Ada begitu banyak Sastrawan di Negara ini, tetapi mungkin hanya sedikit yang bisa menembus kancah sastra dunia. Contoh dari beberapa sastrawan lama yang berhasil menembus dunia adalah Pramoedya Ananta Toer. Ada pula sastrawan lain yang terkenal seperti Chairil Anwar, NH Dini, Widji Thukul, kemudian ada juga Buya Hamka. Kalau saya boleh menyebutkan, mereka adalah sastrawan klasik, di mana cerita tersebut tidak mengenal batasan waktu, isinya selalu relevan terlepas dari siapa yang membaca atau di mana cerita itu diterbitkan. Kata klasik sendiri tidak melalui mengacu pada umur karya tersebut. Di sini, klasik mengindikasikan cerita tersebut mampu memberikan nilai resonansi yang kuat bagi pembacanya.



Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer atau sering dipanggil dengan sebutan Pram saja, merupakan salah satu pengarang produktif yang menorehkan prestasi di dunia sastra Indonesia. Banyak dari karangan-karangannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, salah satunya adalah Bumi Manusia, buku pertama dari tetralogi pulau buru, sebuah roman yang beliau tulis ketika diasingkan ke pulau Buru.

Beliau lahir dari seorang Ayah yang berprofesi sebagai guru dan Ibu yang berjualan nasi. Pram dikenal sebagai penulis yang handal, di mana tulisan-tulisannya memiliki ciri yang kuat, tegas, dan blak-blakan.


Chairil Anwar
Chairil Anwar lahir di Medan, 22 juli 1922. Tulus adalah nama ayahnya dan saleha ibunya. Mereka berasal dari payakumbuh, sumatera barat. Chairil lahir dalam perantauan kedua orangtuanya ke medan. Dia bersekolah di HIS, Medan. HIS merupakan sekolah dasar pada zaman belanda. Kemudian dia melanjutkan ke SMP, yang ada pada Zaman penjajah dulu di sebut MULO. Di sekolah menengah ini dia hanya duduk di kelas pendahuluan (Voorklaas) dan kelas satu, kemudian ia pindah ke jakarta pada tahun 1941, ketika berumur 19 tahun. Dia tidak tamat MULO karena kesulitan ekonomi. Sajak yang paling terkenal dari seorang Chairil Anwar adalah sajak berjudul “Aku”.
Ada beberapa tuduhan plagiat yang pernah dialamatkan kepada Chairil Anwar sewaktu dia masih hidup. Diberitakan bahwa sajaknya yang berjudul “Datang Dara Hilang Dara” merupakan hasil palgiat dari sajak Hsu Chih Mo yang berjudul “A song of the sea”. Tidak hanya itu saja yang ia contoh, tetapi juga banyak sajak-sajak lain seperti “karawang-Bekasi” yang diambil dari sajak Archibald MacLeish yang berjudul “ The young dead soldiers”. Demikian juga dengan sajaknya “ kepada peminta-minta”, “Rumahku”, dan lain-lain.

Berita itu tentu saja mengejutkan dunia sastra Indonesia sehingga timbul polemik antara yang menyerang dan mempertahankan Chairil. Namun orang-orang pun tidak dapat membantah peranan dan jasa besar Chairil dalam sejarah sastra Indonesia.



Buya Hamka
Buya Hamka lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat menjadi HAMKA.  Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.  Karya-karya Buya Hamka yang paling terkenal adalah tenggelamnya kapal van der wijck, yang pernah dituduh Pram sebagai plagiat.
Read More

Jumat, 26 September 2014

Mengenal Wonosobo

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Dingin, sepanjang perjalanan bisa melihat kebun-kebun sayuran, lantas kalau hujan atau hari menginjak malam, kabut pun muncul. Sekilas, itu merupakan gambaran mengenai Wonosobo, sebuah Kabupaten yang ada di lerang gunung sindoro, gunung sumbing, gunung prahu, gunung bismo, pegunungan telomoyo, tampomas dan songgoriti. Jika berpergian menuju cilacap atau Banjarnegara, biasanya akan melewati kota ini dulu.

Beuh..., cuaca di sana benar-benar dingin menusuk. Bahkan tanpa AC mobil pun, kita bisa merasakan kesejukan daerah itu. Menyenangkan! Kebun-kebun sayurannya juga enak untuk dilihat. Iya, dilihat saja, karena saya kurang tahu di mana membelinya, mungkin di pasar daerah sana, tetapi bisa jadi sayur-sayur di sana dijual ke tempat lain. Di Wonosobo ini ada tempat-tempat wisata yang menarik seperti dataran tinggi Dieng, Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, dan masih banyak lagi. (Sering bolak-balik lewat kota ini baru tahu kalau Wonosobo punya banyak tempat wisata yang terkenal. Duh..., emang dasar nasib yang nggak pernah mampir berhenti di sana.)

Berdirinya Kabupaten Wonosobo ada kaitannya dengan kisah 3 pengembara yang masuk ke wilayah tersebut pada awal abad 17. Ketiga pengembara itu adalah Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Mereka bertiga menempati wilayah yang berbeda, di mana Kyai Kolodete membuka permukiman di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim di sekitar Kalibeber, dan Kyai Walik memilih wilayah yang kini menjadi Kota Wonosobo.

Kata Wonosobo sendiri diyakini bermula dari sebuah dusun yang ada di Selomerto, sebuah daerah yang didapatkan oleh Ki Singowedono yang merupaka cucu kyai Karim, di mana Dusun tersebut bernama Wanasaba yang didirikan oleh Kyai Wanasaba, hingga kini dusun tersebut pun masih ada, dan banyak dikunjungi para peziarah, yang ingin berdoa di makam Kyai Wanasaba, Kyai Goplem, Kyai Putih, dan Kyai Wan Haji.

Wonosobo sendiri memiliki makanan kuliner yang sangat terkenal, apalagi kalau bukan Mie Ongklok? Semua pasti sudah pernah mendengar Mie Ongklok bukan?


Eh...? Ada yang belum pernah dengar ternyata. Baik-baik, saya jelaskan deh tentang Mie Ongklok ini. Mie Ongklok ini sebenarnya adalah bakmi. Iya, bakmi, nama depannya aja udah pake Mie, pasti bahan dasarnya bakmi, kan. *Ditimpuk pake bantal*
Ongklok di Mie Ongklok ternyata memiliki arti sendiri. Disebut mie ongklok karena sebelum disajikan, mie ini diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Kol dan daun kucai merupakan sayuran khas Wonosobo. Kucai sendiri adalah daun yang terkenal sebagai penurun darah tinggi. Selain itu, ada juga sate sapi, tempe kemul, dan geblek (makanan sejenis singkong). Jelas saja, makanan berkuah nan panas ini cocok dimakan di daerah Wonosobo yang berhawa dingin. Kalau lewat ke Wonosobo, jangan lupa coba makanan khas daerah ini, ya.

Read More

Kamis, 25 September 2014

Tahap-tahap Penulisan (2)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Di artikel sebelumnya, tertulis mengenai tahap prapenulisan. Sekarang, kita masuk ke tahap penulisa. Di tahap ini bahan-bahan yang sebelum ada di tahap prapenulisan akan segera dituangkan dalam bentuk tulisan.

Kerangka yang telah dibentuk mulai dijadikan sebagai rangkaian cerita yang menjadi satu kesatuan yang nyata. Dengan berpedoman pada karangan, kita bisa mengetahui patok-patok mana yang harus dipatuhi, mana patok cerita yang melanggar dari kerangka itu sendiri. Pengekspresian ide pada tahap penulisan ini membutuhkan dorongan, semangat, dan ketelatenan dari penulis sendiri. Karena tidak jarang, saat menulis sebuah cerita, penulis mendadak tidak mood, merasa frustasi, jengkel, dan akhirnya tidak lagi melanjutkan naskah ceritanya.

Musuh utama pada seorang penulis adalah dirinya sendiri, bagaimana dia mampu mengendalikan kemalasan serta rasa frustasi karena kejengkelannya akibat naskahnya tidak selesai juga. Disarankan, bila memang penulis tengah mengalami writer’s block, untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan tulisannya. Hal itu dilakukan, supaya si penulis tidak menghancurkan karyanya sendiri, karena... saat dalam emosi labil atau tekanan, kemungkinan si penulis menganggap karyanya sangat buruk, pasti sangat besar.

Namun, bukankah karya pertama memang tidak dimaksudkan untuk menjadi yang terbaik?

Di sinilah, revisi akan berperan. Setelah tahap penulisan dan penulis berhasil menyelesaikan naskah ceritanya, maka dimulailah tahap merevisi naskah. Disarankan untuk mengambil tenggat waktu dari selesai penulisan dan awal mulai untuk mengedit. Di revisi ini, penulisa akan membaca tulisan berulang-ulang, membereskan cerita yang kurang masuk akal, menambahi atau menambal bagian-bagian cerita yang dirasa kurang memuaskan, kemudian memotong atau memangkas cerita yang dianggap tidak perlu. Dari sini, proses kreatif kedua dijalankan.

Pada tahap revisi, penulis jauh lebih banyak berpikir dibanding saat menulis naskah pertamanya. Di sini, penulis pun dituntut untuk selalu sabar dan telaten dalam menghasapi naskahnya. Untuk menghasilkan naskah yang baik, memang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, ketika kita berhasil menyelesaikan satu naskah dan memolesnya menjadi yang terbaik, akan ada rasa bangga dan bahagia dengan hasil karya tersebut. Terutama ketika karya kita diterima oleh penerbit Mayor.

Selamat menulis!
Read More

Tahap-tahap Menulis (1)

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas



Menulis adalah sebuah proses kreatif, imajinatif, dan melalui hasil pemikiran serta perenungan dari si penulis itu sendiri. Sebagai suatu proses, menulis memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Prapenulisan
2. Penulisan
3. Revisi

Pada tahap prapenulisan, proses menulis terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu, pemilihan dan penetapan topik tulisan, menentukan tujuan dan bentuk karangan, mencari dasar bahan penulisan, menyusun kerangka karangan tersebut. Pada bagian pemilihan dan penetapan topik penulisan, kita perlu memperhatikannya dengan baik, karena ini bagian yang penting, menentukan arah atau isi dari karangan kita sendiri. Hal ini dikarenakan pemilihan topik menjadi dasar untuk membangun tulisan tersebut.

Kemudian menentukan tujuan dan bentuk karangan. Dengan menentukan tujuan penulisan, penulis akan lebih mudah mengetahui apa yang ingin dikerjakannya dalam tahap penulisan. Tulisan tersebut nantinya bisa diperluas atau bahkan dipersempit. Lalu ada lagi mencari bahan dasar untuk penulisan. Kita membutuhkan sesuatu untuk menjadi bahan dasar tulisan. Seperti yang pernah dikatakan, menulis dan membaca aalah dua hal yang berdampingan. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa menulis. Karena dari bacaan-bacaan-lah kita bisa mengetahui dan memahami apa yang ingin kita utarakan dalam sebuah tulisan.

Yang terakhir pada tahap prapenulisan adalah membuat kerangka karangan. Percayalah bahwa ini pun menjadi yang paling penting. Saat kalian diburu waktu, diberi tekanan untuk segera menyelesaikan cerita, kerangka karangan akan memudahkan kalian dalam menyelesaikan naskah. Kerangka karangan berisi garis besar cerita dari awal sampai akhir. Dan kita bisa membuat patokan-patokan yang akan dipatuhi per bagian cerita dalam karangan. Dengan adanya kerangka, ini memudahkan pekerjaan kita dalam menulis serta mengingatkan seandainya kita teledor dalam mempertahankan logika cerita.
Read More

Rabu, 24 September 2014

Mari Membaca!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Berapa jumlah buku dalam setahun yang kalian selesaikan?

50 buku? Tidak? Oh..., mungkin 30? Masih tidak juga? Jadi, berapa? 1 buah buku?

Itu bagus. Setidaknya kalian menyelesaikan satu buah buku bacaan dari pada tidak sama sekali. Namun, apakah konteks membaca itu hanya diukur dari buku? Sebenarnya tidak juga. Karena dari media koran atau online pun sebenarnya kita pun membaca. Buku atau media apa pun yang menjadi sarana bacaan kita, sebetulnya adalah media pembelajaran pula pada kita.

Dari bahan bacaan, kita mendapat tambahan pengetahuan. Dengan semakin banyak membaca buku, maka kita semakin belajar untuk bertambah kritis dan mengamati sesuatu dengan lebih detail lagi. Dengan membaca, pikiran kita juga terlatih untuk mengalisis sesuatu. Tentunya ini suatu hal yang menguntungkan bukan?

Selain menambah pengetahuan dan mengasah daya analisis kita, membaca juga apat meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan. Kemudian menjauhkan otak dari penyakit Alzheimer maupun bisa menjadi sarana untuk pengembangan diri.

Jadi tunggu apa lagi? Mari membaca dan tingkatkan wawasan mengenai dunia!
Read More

Menulis!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Jika kau ingin menulis, maka tulislah.

Sebuah kalimat sederhana yang sebenarnya memiliki arti mendalam. Seringkali, kita terkecoh dan bahkan menyepelekan sesuatu yang sederhana. Padahal dengan suatu hal yang sederhana, kita bisa membuat banyak hal yang luar biasa. Seperti contohnya dengan membuat sebuah premis tulisan dengan pertanyaan atau kalimat pengandaian, bagaimana jika....

Sebuah ide tidak akan menjadi apa-apa bila tidak direalisasikan. Seperti halnya keinginan seorang penulis. Penulis tidak akan menjadi penulis bila dia tidak memulai menulis. Ide-ide yang ada di dalam kepala penulis tidak akan tersampaikan pada pembaca, bila dia tidak mulai menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Ada beragam alasan yang bisa disampaikan penulis bila dia ingin menunda-nunda untuk menulis, tapi hanya akan ada sedikit alasan untuk bertahan bahkan mencoba saat menulis.

Tidak ada kegagalan, bila kita tidak mencoba.

Jika kebingungan untuk menulis, maka cobalah untuk menulis satu kalimat awal, entah apa pun itu. Kemudian, dari satu kalimat itu, kembangkan menjadi sebuah outline (kerangka karangan yang mencakup dari awal sampai akhri tulisan). Di dalam kerangka tersebut, kita bisa memetakan poin-poin apa yang akan kita tulis di setiap bagian atau bab. Kemudian, perdalam, gali lagi mengenai tema yang ingin kamu angkat melalui tulisan tersebut. Ide-ide, semuanya, coba tuangkan dalam satu sketsa cerita yang sederhana, lalu kembangkan lagi menjadi sebuah tulisan besar yang bisa jadi kompleks, atau malah menyederhanakan.


Hal yang paling utama dalam kegiatan menulis adalah membaca. Kedua kegiatan ini sebenarnya pasangan, satu-kesatuan. Tanpa membaca, tulisan kita bisa jadi kering, miskin makna atau bahkan tak bermakna sama sekali. Namun, dengan membaca (membaca buku atau cerita apa pun) cerita atau tulisan kita bisa kaya dengan beragam aneka bumbu. Jangan batasi bacaan kita dalam satu genre atau satu bagian saja. Perluas wawasan pula dan banyak-banyak bergaul dengan orang. Mari kita budayakan membaca dan menulis. ^__^
Read More

Senin, 22 September 2014

Taman Djamoe

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Taman Djamoe Indonesia terletak di jalan Raya Semarang Bawen km 28 Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Di tempat ini, berbagai jenis atau bahkan ratusan jenis tanaman obat ditanam pada lahan seluas 3 hektar hingga membentuk panorama asri yang indah dan enak dilihat. Letak geografisnya berada di dekat Gunung Ungaran membuat suasana di taman Djamoe pun terasa sejuk dan dingin. Keindahan taman maupun edukasinya mengenai berbagai jenis tanaman obat pun menjadikan taman djamoe sebagai destinasi wisata edukasi baik seorang individual, kelompok, maupun keluarga.



Di taman Djamoe, masyarakat bisa mengenal lebih dekat keanekaragaman tanaman jamu yang selama ini sering dinikmati hasilnya, tapi jarang diketahui bentuk tanamannya. Ratusan tanaman jamu, mulai dari yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, hingga tanaman jamu yang langka sehingga perlu dijaga kelestariannya bisa dilihat di sini. Oleh sebab itu, Taman Djamoe Indonesia bisa menjadi sarana rekreasi sekaligus edukasi yang sangat tepat bagi kita semua.

Selain belajar mengenal tanaman-tanaman jamu dan manfaatnya, di sini kita pun bisa menikmati aneka masakan jawa yang disuguhkan di taman djamoe resto. Ada juga berbagai olahan dari tanaman jamu yang bisa diminum di sana, seperti beras kencur (yang jelas-jelas kita kenal dengan baik sehari-hari). Selain resto taman jamu, ada juga tempat perawata kecantikan yang bisa digunakan oleh kaum hawa, yaitu Srikaton Spa. Aneka perawatan tubuh bisa dijajal di sana, dengan waktu antara 1 – 2.5 jam. Taman ini buka dari pukul 8 pagi sampai 4 sore.


Read More

Jumat, 19 September 2014

Candi Borobudur

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Candi Borobudur merupakan warisan nenek moyang yang sangat terkenal. Candi yang dibuat di sekitar abad ke-8 di masa Raja Samaratungga itu terletak di kabupaten Magelang, di provinsi Jawa Tengah. Bentuk candi borobudur seperti piramida berundak yang semakin lama semakin mengerucut ke atas dengan stupa-stupa hampir berada di setiap undakannya.

Selain memiliki nilai seni yang tinggi, Borobudur juga menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Candi ini mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Kata borobudur sendiri memiliki beragam macam makna. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.

Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.

(Artikel dan foto disusun dari berbagai sumber).
Read More

Selasa, 16 September 2014

Pameran Arsip dan Perpustakaan se-Jawa Tengah

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Tanggal 16-18 September ini, bertempat di gedung wanita Semarang diselenggarakan sebuah pameran mengenai arsip dan perpustakaan se-Jawa Tengah. Dalam pameran ini ada cukup banyak perpustakaan serta arsip daerah yang ikut serta, seperti stand provinsi Jawa Tengah, Magelang, kudus, serta Semarang, dan lain sebagainya.

Tiap-tiap dari kantor arsip dan perpustakaan tersebut memiliki ciri khas sendiri-sendiri, seperti kantor arsip dan perpustakaan dari Kudus yang memajang sebuah Al Qur’an yang cukup besar. Kemudian ada kantor arsip dan perpustakaan provinsi Jawa Tengah yang memajang foto-foto dan buku-buku lama mengenai Semarang maupun Jawa Tengah secara keseluruhan.

Selain itu, ada pula beberapa toko buku yang ikut dalam pameran ini seperti toko buku Raja Murah, Divapress, Gramedia. Kemudian ada stan komunitas dari sebuah komunitas baca bernama Goodreads Indonesia Semarang, yang memamerkan beberapa koleksi buku-bukunya serta menjual buku-buku second yang murah.


Buku-buku yang ada di bawah merupakan buku-buku koleksi dari anggota Goodreads Indonesia Semarang.



Read More