Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Mengenal lebih Dekat Boyolali

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Setiap kali melewati kota Boyolali, dalam perjalanan Semarang menuju Solo, sering terbersit rasa heran dalam diri saya, kenapa disebut sebagai Boyolali? Apa nama ini ada kaitannya dengan buaya yang dalam bahasa jawa disebut Boyo dan lali yaitu pelupa. Jadi... Boyolali ada buaya yang pelupa? Jelas pikiran saya ngawur banget. Tapi memang, nama kota atau daerah di Indonesia biasanya selalu memiliki arti dan gabungan dari beberapa suku kata. Dan untuk Boyolali sendiri, usut punya usut, rupanya namanya berasal dari ucapan ki Ageng Pandan Arang.

Ki Ageng Pandan Arang sendiri siapa? Beliau merupakan Bupati Semarang pada abad ke-16 yang diramalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai wali penutup menggantikan Syeh Siti Jenar. Jadi ceritanya, Ki Ageng Pandan Arang diutus untuk pergi ke Sragen untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya dari Semarang menuju Sragen, Ki Ageng menemui banyak rintangan dan hambatan. Dalam menempuh perjalanan yang jauh ini, Ki Ageng Pandan Arang semakin meninggalkan anak dan istri. Sambil menunggu mereka, Ki Ageng Beristirahat di sebuah Batu Besar yang berada di tengah sungai. Dalam istirahatnya Ki Ageng Berucap “ BAYAWIS LALI WONG IKI” yang dalam bahasa indonesia artinya “Sudah lupakah orang ini”. Dari kata Baya Wis Lali/ maka jadilah nama BOYOLALI.

Kedengaran agak aneh bukan? Tapi, memang seperti itulah, cerita atau legenda yang beredar. Sama seperti nama Salatiga yang didapat karena di sana ada 3 kesalahan, di mana pada akhirnya Ki Ageng Pandan Arang menamainya dengan Salatiga.


 Boyolali terkenal dengan sapi perahnya serta produksi susunya. Di sini, salah satu dari makanan khasnya adalah dodol susu. Bahannya tentu saja berasal dari susu segar. Dodol susu ini sedang dikembangkan ibu-ibu di Dusun Petongan, Desa Samiran, Selo, Boyolali. Harganya pun murah meriah. Siapa yang mau coba, beli saja! :D


Selain dodol susu, kalian juga bisa menikmati makanan khas berupa jenang pecel! Jenang pecel adalah semacam modifikasi dari pecel sayuran pada umumnya. Pecel tidak lagi disajikan dengan nasi, melainkan dengan jenang. Jenang disini sebenarnya adalah bubur sumsum (yang terbuat dari tepung beras). Untuk komponen pecelnya sama saja, terdiri dari aneka macam sayuran rebus yang kemudian diguyur dengan sambal kacang. Disadur dari web tempat wisata travelensia.com
Read More

Jumat, 26 September 2014

Mengenal Wonosobo

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Dingin, sepanjang perjalanan bisa melihat kebun-kebun sayuran, lantas kalau hujan atau hari menginjak malam, kabut pun muncul. Sekilas, itu merupakan gambaran mengenai Wonosobo, sebuah Kabupaten yang ada di lerang gunung sindoro, gunung sumbing, gunung prahu, gunung bismo, pegunungan telomoyo, tampomas dan songgoriti. Jika berpergian menuju cilacap atau Banjarnegara, biasanya akan melewati kota ini dulu.

Beuh..., cuaca di sana benar-benar dingin menusuk. Bahkan tanpa AC mobil pun, kita bisa merasakan kesejukan daerah itu. Menyenangkan! Kebun-kebun sayurannya juga enak untuk dilihat. Iya, dilihat saja, karena saya kurang tahu di mana membelinya, mungkin di pasar daerah sana, tetapi bisa jadi sayur-sayur di sana dijual ke tempat lain. Di Wonosobo ini ada tempat-tempat wisata yang menarik seperti dataran tinggi Dieng, Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, dan masih banyak lagi. (Sering bolak-balik lewat kota ini baru tahu kalau Wonosobo punya banyak tempat wisata yang terkenal. Duh..., emang dasar nasib yang nggak pernah mampir berhenti di sana.)

Berdirinya Kabupaten Wonosobo ada kaitannya dengan kisah 3 pengembara yang masuk ke wilayah tersebut pada awal abad 17. Ketiga pengembara itu adalah Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Mereka bertiga menempati wilayah yang berbeda, di mana Kyai Kolodete membuka permukiman di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim di sekitar Kalibeber, dan Kyai Walik memilih wilayah yang kini menjadi Kota Wonosobo.

Kata Wonosobo sendiri diyakini bermula dari sebuah dusun yang ada di Selomerto, sebuah daerah yang didapatkan oleh Ki Singowedono yang merupaka cucu kyai Karim, di mana Dusun tersebut bernama Wanasaba yang didirikan oleh Kyai Wanasaba, hingga kini dusun tersebut pun masih ada, dan banyak dikunjungi para peziarah, yang ingin berdoa di makam Kyai Wanasaba, Kyai Goplem, Kyai Putih, dan Kyai Wan Haji.

Wonosobo sendiri memiliki makanan kuliner yang sangat terkenal, apalagi kalau bukan Mie Ongklok? Semua pasti sudah pernah mendengar Mie Ongklok bukan?


Eh...? Ada yang belum pernah dengar ternyata. Baik-baik, saya jelaskan deh tentang Mie Ongklok ini. Mie Ongklok ini sebenarnya adalah bakmi. Iya, bakmi, nama depannya aja udah pake Mie, pasti bahan dasarnya bakmi, kan. *Ditimpuk pake bantal*
Ongklok di Mie Ongklok ternyata memiliki arti sendiri. Disebut mie ongklok karena sebelum disajikan, mie ini diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Kol dan daun kucai merupakan sayuran khas Wonosobo. Kucai sendiri adalah daun yang terkenal sebagai penurun darah tinggi. Selain itu, ada juga sate sapi, tempe kemul, dan geblek (makanan sejenis singkong). Jelas saja, makanan berkuah nan panas ini cocok dimakan di daerah Wonosobo yang berhawa dingin. Kalau lewat ke Wonosobo, jangan lupa coba makanan khas daerah ini, ya.

Read More

Senin, 22 September 2014

Taman Djamoe

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Taman Djamoe Indonesia terletak di jalan Raya Semarang Bawen km 28 Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Di tempat ini, berbagai jenis atau bahkan ratusan jenis tanaman obat ditanam pada lahan seluas 3 hektar hingga membentuk panorama asri yang indah dan enak dilihat. Letak geografisnya berada di dekat Gunung Ungaran membuat suasana di taman Djamoe pun terasa sejuk dan dingin. Keindahan taman maupun edukasinya mengenai berbagai jenis tanaman obat pun menjadikan taman djamoe sebagai destinasi wisata edukasi baik seorang individual, kelompok, maupun keluarga.



Di taman Djamoe, masyarakat bisa mengenal lebih dekat keanekaragaman tanaman jamu yang selama ini sering dinikmati hasilnya, tapi jarang diketahui bentuk tanamannya. Ratusan tanaman jamu, mulai dari yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, hingga tanaman jamu yang langka sehingga perlu dijaga kelestariannya bisa dilihat di sini. Oleh sebab itu, Taman Djamoe Indonesia bisa menjadi sarana rekreasi sekaligus edukasi yang sangat tepat bagi kita semua.

Selain belajar mengenal tanaman-tanaman jamu dan manfaatnya, di sini kita pun bisa menikmati aneka masakan jawa yang disuguhkan di taman djamoe resto. Ada juga berbagai olahan dari tanaman jamu yang bisa diminum di sana, seperti beras kencur (yang jelas-jelas kita kenal dengan baik sehari-hari). Selain resto taman jamu, ada juga tempat perawata kecantikan yang bisa digunakan oleh kaum hawa, yaitu Srikaton Spa. Aneka perawatan tubuh bisa dijajal di sana, dengan waktu antara 1 – 2.5 jam. Taman ini buka dari pukul 8 pagi sampai 4 sore.


Read More

Jumat, 19 September 2014

Candi Borobudur

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Candi Borobudur merupakan warisan nenek moyang yang sangat terkenal. Candi yang dibuat di sekitar abad ke-8 di masa Raja Samaratungga itu terletak di kabupaten Magelang, di provinsi Jawa Tengah. Bentuk candi borobudur seperti piramida berundak yang semakin lama semakin mengerucut ke atas dengan stupa-stupa hampir berada di setiap undakannya.

Selain memiliki nilai seni yang tinggi, Borobudur juga menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Candi ini mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Kata borobudur sendiri memiliki beragam macam makna. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi/di atas”. Versi kedua mengatakan bahwa nama Sejarah Candi Borobudur kemungkinan berasal dari kata “sambharabudhara” yang berarti “gunung yang lerengnya berteras-teras”. Versi ketiga yang ditafsirkan oleh Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari kata “bhoro” yang berarti “biara” atau “asrama” dan “budur” yang berarti “di atas”.

Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G. de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat pemujaan bagi arwah nenek moyang”.

(Artikel dan foto disusun dari berbagai sumber).
Read More

Candi Gedung Sanga

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Candi gedung Sanga terletak di lereng gunung Ungaran, tepatnya di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Disebut sebagai Candi Gedung Sanga karena memang candi ini memiliki 9 bangunan, di mana antara satu candi dan candi lainnya letaknya berlainan. Candi-candi tersebut terletak dari bawah hingga mencapai ke atas dalam posisi yang simetris.

Dari bentuk serta bagaimana posisi candi tersebut dibangun, memperlihatkan perpaduan dari dua religi, yaitu kepercayaan terhadap nenek moyan serta budaya hindu di mana candi merupakan tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak. Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan.

Kompleks candi ini dibuat mengitari kawah sumber air panas, sehingga siapa pun yang datang ke sana bisa menikmati keindahan alam di sekitar candi gedung sanga sekaligus merasakan uap panas bumi. Jarak antara satu candi dengan candi lainnya berbeda-beda. Jadi, siap-siap untuk kelelahan ketika berjalan menanjak untuk sampai ke tiap-tiap candi. Selain itu, untuk mencapai ke gedung sanga ini pun bukan hal yang mudah. Jalan yang kita lewati sempit, berlanggak-lenggok, dan menanjak, membutuhak kehati-hatian ekstra dari kita, terutama saat hujan tiba.
Read More

Kamis, 18 September 2014

Jajanan Pasar yang Enak dan Murah!

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Siapa yang suka kudapan? Setiap orang tentu punya makanan kecil kesukaannya sendiri-sendiri. Indonesia kaya akan makanan kecilnya. Ada yang terbuat dari umbi-umbian, buah, atau pun tepung dan beras. Semuanya nikmat dimakan dengan rasa khas masing-masing daerah. Kali ini, kita akan membahas mengenai jajanan pasar yang terbuat dari singkong.

Ada yang tahu, jajanan pasar apa yang terbuat dari singkong? Banyak! Ada gemblong, getuk, getuk goreng, tiwul, lemet dan masih banyak lagi. Gemblong semacam makanan yang terbuat dari parutan singkong yang kemudian diisi dengan gula jawa lalu digoreng. Siapa yang tidak tahu getuk? Kebanyakan pasti tahu getuk.


Sebenarnya, di lingkungan saya, getuk tidak terbatas pada jajanan pasar yang terbuat dari singkong, melainkan jajanan pasar yang biasa dibeli ibu saya, semuanya pasti dinamakan getuk, padahal tiap-tiap jajanan itu kemungkinan besar memiliki namanya sendiri-sendiri. Selain getuk ada tiwul yang menyerupai nasi tapi terbuat dari tepung singkong. Ada tiwul yang bisa dijadikan pengganti nasi lho dan bisa dimakan dengan lauk atau sayur. Namun, ada juga tiwul yang seperti kudapan, taburi kelapa dan lelehan gula jawa. Wah... rasa manisnya enak! 

Kemudian ada juga lemet. Mirip seperti gemblong tapi berbeda cara memasak dan pengerjaannya. Lemet dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Rasanya kenyal-kenyal dan manis dengan gula jawa yang dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya antara asin-manis dan gurih. Harumnya pun mengundang selera makan. Ayo, kita makan jajanan pasar atau malah membuatnya sendiri!
Read More

Rabu, 17 September 2014

Pasar Sentiling 2014

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Setelah event pameran perpustakaan dan arsip di kota Semarang, sebentar lagi akan digelar sebuah event pula yang akan berlangsung di kota Lama, yaitu Pasar malam Sentiling. Rencananya, event ini akan berlangsung dari tanggal 19 – 21 Desember 2014. Awalnya, event ini diadakan untuk menggairahkan kehidupan di area kota Lama. Program acara yang akan berlangsung antara lain:


- Pasar Sentiling
-  Zona:
Parade Plein
Kampung Jawa
Kampung Belanda
- Expo:
Koloniale Tentoonstelling
Vrouw
Kereta Api
Batik
- Symphony Kota Lama
- Jazz Event (19 September 2014)
- Acara kuliner
- Aneka lomba tradisional:
Nekeran
Gangsingan
Dakon

Ayo, datang dan ikut meriahkan pasar sentiling! Jangan lupa, kemungkinan besar jual-beli di tempat ini memakai uang-uangan yang ada di sekitar area pasar. Jadi, kalian harus menukar uang yang ada sekarang dengan uang-uangan yang tersedia di beberapa titik tempat penukaran uang, baru bisa membeli makanan atau barang di sekitar pasar sentiling.
Read More

Senin, 15 September 2014

Kampung Rawa : Makan sambil Mengapung di Ambarawa

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Usai pergi dari Cimory, tanpa mencicipi makanan di sana, saya pun langsung tancap gas menuju ke Kampung Rawa. Dalm hati, saya berharap bisa mendapat makanan enak, murah, dan merupakan porsi keluarga. Biasalah, kantung mahasiswa di semester akhir itu biasanya cekak, alias banyak keringnya. Apalagi adik sepupu sudah merekomendasikan tempat ini. Maka..., saya pun makin bersemangat menuju ke sana.

Sebetulnya, antara Cimory – Kampung Rawa ini tidak terlalu jauh. Jaraknya mungkin sekitar 30 menit perjalanan atau 20 menitan, bila tidak macet. Letak Cimory memang berdekata dengan pertigaan yang menuju Salatiga serta Yogyakarta. Dengan hati riang, karena sehabis melihat pemandangan indah di Cimory, saya pun bergegas pergi ke sana. Bayang-bayang makanan yang enak, terutama udang bakar, membuat saya makin tidak sabar. Perlu diketahui, saya sampai rela tidak sarapan hanya karena mau wisata kuliner di kampung Rawa. :))

Tak berapa lama, kami pun sampai di sana. Angin besar yang bertiup langsung menyambut kedatangan kami. Cuaca tak berbeda jauh dari Cimory, terasa sejuk tetapi juga panas. Di sekitar kami, saya bisa melihat rawa pening yang begitu luas. Iya, tempat ini memang berada di sekitar danau rawa pening yang menjadi tempat menggantungkan hidup bagi penduduk sekitarnya. Saya dan yang lainnya pun memutuskan untuk masuk ke restoran terapung. Kami berdua naik semacam apa ya... kapal-kapalan kecil untuk menyebrang sampai di restoran. Sensai pertama ketika menginjakkan kaki di restoran itu adalah... pusing.

Bagaimana tidak? Hampir setiap kali kami berjalan, jalannya bergoyang ke kiri dan ke kanan, siapa pun rasanya pasti mual kalau goyang ke sana-ke sini terus-menerus. Kemudian, kami pun memilih tempat di sebuah bilik kecil yang ada di luar restoran. Dari sini, kami bisa melihat keindahan rawa pening. (Bagi yang masuk angin, hati-hati kalau memilih makan di luar area, seoalnya anginnya kencang, tahu-tahu malah masuk angin dan pilek seperti saya karena ndak tahan anginnya).

Kami memesan makanan paketan. Jujur, sewaktu buka menu dan melihat daftar harga, saya kaget karena harganya lebih mahal dari Cimory. (Tahu gitu saya nyicip makan di Cimory aja. Samapi sekarang nyesel, nggak icap-icip di sana :( ). Yang lebih mengesalkan lagi, dengan pelayanannya yang kurang mengenakkan. Masakannya pun kurang sedap. Padahal..., beberapa kawan bilang makanan di sini enak. Tapi saya malah tidak merasakan itu. Saat meninggalkan tempat tersebut, saya cukup kecewa, meski... yah... mau bagaimana lagi.

Semoga pelayanan dan makanan di sana bertambah enak. Ada yang mau mencoba? :D


Read More

Cimory Bawen, Tempat Rekomendasi Wisata Keluarga

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

2013 lalu, ada salah satu restoran dari Bogor yang lumayan terkenal, bernama Cimory akan hadir di Semarang, ehm... sebenarnya tidak tepat jika berada di Semarang, melainkan berada di Bawen, yang masih termasuk kabupaten Semarang. Yah, seperti orang-orang kebanyakan, yang selalu tertarik dengan hal-hal baru, saya pun merencanakan hendak pergi ke tempat tersebut bersama saudara sepupu saya. Apalagi kalau bukan untuk memuaskan rasa penasaran saya.

Pada suatu minggu, akhirnya saya pun berangkat menuju ke Cimory Bawen bersama adik sepupu serta kedua teman saya. Saya sengaja memilih waktu pagi agar tidak terjebak macet maupun keramaian di tempat yang saya tuju. Iya..., saya tidak suka ramai dan macet, terutama di daerah Bawen sana mobil-mobil yang lewat pun bukan hanya mobil pribadi, melainkan juga bus, tronton, truk batu dan pasir. Bisa dibayangkan, kan, bagaimana rasanya kalau terjebak macet dengan motor-motor seperti itu?

Akhirnya, sekitar pukul 10 kami tiba di sana. Suasana cukup sejuk dan dingin. Daerah ungaran, mbawen memang daerah pegunungan. Suasananya nyaman dan enak. Yang perlu dicatat hanya satu hal, tempat ini pun juga terasa panas. Sejuk tapi panas. Di Cimory, saya menemukan ada dua buah bangunan di bagian depan, setelah tempat parkir mobil. Yang pertama supermarket berisi tempat jualan olahan dari sapi, sedangkan di sisi kanan, kalau tidak salah merupakan restorannya. Kami tidak memilih ke restoran tersebut karena berniat untuk makan di Kampung Rawa yang ada di daerah Ambarawa, tepatnya di jalur lingkar luarnya.


Cimory lumayan enak. Ada taman, tempat bermain untuk anak kecil, ada sebuah peternakan kecil-kecil berisi sapi totol item-putih, kemudian kandangan kelinci yang gemuk ginuk-ginuk, dan beberapa binatang lainnya. Tempat ini disarankan untuk menjadi tempat wisata keluarga, terutama anak-anak. Mereka pasti senang bertemu dengan hewa-hewan di sini. Kalau saya, mah..., hehehe....
Read More

Jumat, 12 September 2014

Gereja Blenduk Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas
Gereja Blenduk, salah satu bangunan yang menjadi ikon di kota Lama semarang. Usia Gereja ini cukup tua. Pertama kali dibangun, bentuknya pun tidak seperti sekarang ini. Bentuknya seperti rumah panggung dengan atap sesuai dengan arsitektur Jawa Kemudian, bangunan itu pun dirombak dan dijadikan seperti yang sekarang. Gedung ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas, dengan dua menara dan atap kubah. Keterangan mengenai Wilde dan Wetmas tertulis pada kolom di belakang mimbar.

Bangunan Gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Bangunan ini menghadap ke Selatan. Lantai bangunan hampir sama tinggi dengan jalan di depannya. Pondasi yang digunakan terbuat dari batu dan sistem strukturnya dari bata. Dinding terbuat dari bata setebal satu batu. Atap bangunan berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk oleh usuk kayu jati. Di bawah pengakiran kubah terdapat lubang cahaya yang menyinari ruang dalam yang luas. Di depan Gereja Blenduk terdapat taman Srigunting dan di sisi yang lain merupakan jalan pada yang sering dilewati banyak mobil. 


Jika merasa lelah atau sedang berjalan-jalan di sekitar kota Lama, sempatkan untuk mampir ke taman Srigunting dan menikmati keindahan Gereja Blenduk serta angin silir dari taman. Di sana tempat yang menyenangkan untuk berkumpul, meski agak berisik karena salah satu sisi jalan merupakan lalu lintas utama dari arah utara.

(Foto dari berbagai sumber)
Read More

BonBin Mangkang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Namanya adalah Taman Margasatwa Semarang, tapi orang-orang kadang menyebutnya sebagai Kebun Binatang Mangkang, karena letaknya yang ada di pinggir barat ibu kota Semarang, yaitu daerah Mangkang. Taman Margasatwa Semarang dulunya tidak bernama taman Margasatwa Semarang, melainkan lanjutan dari Taman Hiburan Rakyat. Dulunya, pun tidak bertempat di Mangkang, melainkan di TBRS atau Taman Budaya Raden Saleh.

Sejak 28 Februari 2007, barulah kebun binatang itu resmi dipindahkan ke daerah Mangkang yang jauh lebih luas dan lapang. Selain sebagai tempat rekreasi, kebun binatang Mangkang ini pun dijadikan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai macam jenis satwa-satwa. Ada rusa, kancil, gajah, dan berbagai macam jenis burung yang disertai penjelas serta nama latin dari setiap binatang tersebut.


Di sana juga disediakan beberapa macam jenis permainan. Kita bisa naik ke atas punggung gajah sambil berjalan-jalan, kemudian menyusuri danau buatan sambil ditemani burung pelikan, atau bermain di waterboom. Kebun Binatang Mangkang buka setiap hari, tapi jika di hari libur maka bersiap-siaplah dengan keramaian yang ada di sana.


Read More

Kamis, 11 September 2014

Banjir Kanal Barat Semarang

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Sebelumnya, Banjir Kanal Barat tidak memiliki rupa seperti ini. Namun, beberapa tahun yang lalu, sungai ini diperbaiki dan dirombak sedemikian rupa hingga berubah menjadi sangat cantik dan indah dipandang, bahkan... sekarang bisa menjadi tempat penyelenggaran sebuah festival yang bernama festival Banjir Kanal Barat.

Banjir Kanal Barat merupakan sungai terpanjang di kota Semarang yang menjadi gabungan sungai garang, kreo, dan kripik yang berasal dari ungaran dan berfungsi sebagai pengendali banjir utama di kota Semarang. Sebelum dibenahi dan ditata, Banjir Kanal Barat terlihat sangat tidakmenarik untuk menjadi tempat wisata. Banyak semak- ilalang yang tinggi dan pinggirannya juga kotor. Namun, sekarang, semak – ilalang telah dibersihkan. Area pinggiran pun ditata sedemikian rupa hingga menjadi arena berkumpul yang nyaman. Keadaan di sekitar terlihat bersih, sehingga membuat siapa pun senang berkunjung ke sana. Apalagi ada beberapa taman di sekitar sungai ini.


Untuk semakin menyemarakkan keadaan di sekitar sungai ini, maka diadakanlah festival Banjir Kanal Barat, semacam festival perahu hias dan lampion yang selalu ramai dengan kedatangan pengunjung. Selain festival perahu hias, ada juga festival kuliner, pagelaran wayang, dan lain sebagainya. Sangat disayangkan kalai melewatkan acara ini. Namun, hati-hati saat berkunjung ke festival Banjir Kanal Barat, jika anda membawa mobil atau motor, maka bersiaplah untuk menghadapi macet yang lumayan panjang dan lama.
Read More

Selasa, 09 September 2014

Pantai Kartini Jepara

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Selain terkenal dengan ukirannya, Jepara juga memiliki pantai yang cantik seperti Pantai Kartini dan Bandengan. Pantai Kartini terletak sekitar 2,5 km dari pendopo kabupaten atau pusat kota Jepara. Pantai ini berada di area kawasan Bulu Jepara. Selain sebagai objek wisata kota, pantai Kartini juga dimanfaatkan sebagai dermaga, yang menjadi tempat sandaran kapal feri yang akan menuju ke pulau karimun jawa.

Untuk pengunjung yang masuk ke pantai kartini, biasanya harus membayar sekitar Rp 5000. Begitu masuk kawasan, banyak dijumpai penyewaan sepeda, scooter, sampai motor mini yang bisa disewa. Banyak pula warung-warung makan serta penyewaan kamar kecil untuk bilas & mandi setelah bermain di pantai. Ada beberapa penginapan juga yang bisa dijumpai, walau tidak besar.

Selain bisa melihat laut, di pantai kartini ada wahana tempat wisata bernama kura-kura oceanpark, sebuah tempat berisi akuarium-akuarium yang diisi dengan berbagai macam jenis biota laut. Tiket masuk ke kura-kura Ocean park bergantung dengan harinya. Bila hari libur, tiket masuk untuk orang dewasa sekitar Rp 17.500, sedangkan bila hari biasa tiket yang dijual di sana hanya Rp 12.500 saja.

Di samping kura-kura Ocean park, terdapat pedagang-pedagang makanan dari mulai rujak buah, es kelapa muda, sampai bakso bisa ditemui di sana. Sambil menyantap makanan, kita bisa melihat ke arah pantai, karena berada di area terbuka yang cukup teduh, sehingga kita tidak perlu kepanasan saat beristirahat di area itu.
Read More

Ukiran Jepara

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Sebelum agama islam masuk ke pulau jawa, orang-orang di negara kita pada waktu itu telah mengenal seni memahat atau pun seni mematung. Begitu pula daerah Jepara, kota yang terletak persis di pesisir utara pulau jawa. Kota itu dulunya merupakan pelabuhan besar yang menjadi pusat persinggahan kapal-kapal dagang yang berlalu-lintas di area laut jawa. Setelah agama islam masuk ke nusantara, seni memahat dan membuat patung pun mengalami perubahan

Di dalam agama Islam, dilarang untuk membuat bentuk-bentuk makhluk hidup yang mirip dengan aslinya, karena ada ayat yang menegaskan bahwa si pembuat patung-patung tersebut akan dipaksa untuk memberikan nyawa pada patung-patung ciptaannya. Sehingga, terciptalah seni-seni ukiran dengan motif-motif klasik yang sangat indah, seperti motif asli jepara.


Ukiran asli Jepara memiliki motif Jumbai atau ujung relung dimana daunnya seperti kipas yang sedang terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing. Dan juga ada buah tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun. Selain itu, tangkai relungnya memutar dengan gaya memanjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil yang mengisi ruang atau hanya untuk memperindah. Selain motif Jepara, ada pula motif-motif lain seperti motif majapahit, motif bali, bahkan motif madura. Namun untuk sekarang, kebanyakan yang diproduksi adalah mebel-mebel berdesain minimalis.





Ada beberapa sentra ukir di kota ini, salah satunya adalah di mulioharjo. Di sana kita bisa menemukan barang-barang kerajinan dipajang hampir di setiap rumah. Dari patung-patung kuda yang realis sampai kursi-kursi atau meja dengan desain yang unik, contohnya adalah meja yang terbuat dari akar. Jika menyempatkan diri ke Jepara, jangan lupa beli oleh-oleh cinderamata buah tangan berupa pajangan kayu. Di sekitar daerah, sebelum tahunan, terdapat deretan toko-toko yang menjual berbagai produk kerajinan, mulai dari kaligrafi, jam, kursi, maupun pajangan-pajangan lain yang terbuat dari kayu. Harganya juga bervariasi, ada yang puluhan ribu sampai jutaan pun ada di sana. 

Read More

Senin, 08 September 2014

Kota Lama : Ada tapi seperti Tiada

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas


Kawasan kota Lama Semarang merupakan sebuah area dengan banyak bangunan atau gedung-gedung bernuansa eropa. Tempat ini terletak di pinggir kota Semarang, dekat dengan stasiun tawang serta poncol. Dulunya, kawasan kota Lama adalah area perdagangan yang ramai dan eksklusif. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya pelan-pelan kawasan itu pun ditinggalkan dan akhirnya kebanyakan gedung dan bangunan di sana tak dipakai lagi.

Alasan-alasan tersebut tak lain seperti karena kawasan tersebut mulai terkena rob. Air dari sungai tak bisa dibuang ke laut, karena terjadi penurunan tanah di kawasan kota lama, sehingga air kembali ke kota dan menggenang di sana. Alasan lainnya, seperti dikatakan di awal, karena kawasan tersebut merupakan kawasan eksklusif, biaya sewa di sana pun mahal, sehingga pelan-pelan banyak pebisnis yang keluar dari area itu. Jika bukan karena stasiun tawang atau beberapa perusahaan jasa yang ada di sana, seperti bank mandiri, asuransi, jiwa, kantor pos, gedung keuangan, kemungkinan daerah itu akan ditinggalkan oleh masyarakat.

Kota Lama sebenarnya bisa menjadi objek wisata yang menarik dan indah. Apalagi di sana ada gereja Blenduk dan taman srigunting, yang menjadi salah satu ikon kawasan kota lama. Sayangnya, banyak juga gedung-gedung yang tidak terawat di area itu. Beberapa gedung bahkan terlihat tidak sedap dipandang mata. Namun meski demikian, aura sejarah dan era masa zaman Belanda masih terasa kental di sana.

Tidak rugi kalau jalan-jalan ke kawasan kota lama. Menikmati keindahan gereja Blenduk dan suasana sepi yang berdampingan dengan keramaian di tempat itu akan terasa sangat khas sekali. Beberapa ruas jalan utama di kawasan kota lama memang ramai, tetapi di gang-gangnya sepi dan bisa disusuri sambil jalan kaki. Jangan lupa bawa topi atau payung kalau jalan-jalan ke sana waktu siang. Karena Semarang waktu siang panasnya terasa menyengat.







Read More

Minggu, 07 September 2014

Lawang Sewu : Indah, Misterius, dan Bersejarah

Diposting oleh Dina Cahyaningtyas

Siapa yang tidak mengenal Lawang Sewu? Gedung tua peninggalan jaman Belanda itu merupakan salah satu ikon kota Semarang. Letaknya persis di sekitar seputaran Tugu Muda yang jadi salah satu monumen perjuangan kota Semarang. Sebelum dijadikan sebagai museum, dulunya Lawang Sewu merupakan kantor pusat perusahaan kereta api penjajah Belanda, atau lebih dikenal Nederlandsh Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS).

Lawang sewu terkenal sebagai bangunan dengan 1000 pintu. Kenyataannya, pintu-pintu itu tak sampai 1000. Istilah itu terbentuk, karena gedung ini memang memiliki banyak sekali pintu. Selain sebagai bangunan dengan 1000 pintu, Lawang Sewu juga dikenal dengan sebutan gedung ‘angker / mistis’. Persepsi ini terbentuk disebabkan sejarah Lawan Sewu sendiri yang cukup menyedihkan. Bangunan ini digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda dalam beberapa zaman, dari zaman penjajahan Belanda sampai sesudah Kemerdekaan.

Seperti cerita di atas, awalnya Lawang Sewu adalah kantor pusat kereta api yang dibangun Belanda. Kemudian, saat masa penjajahan Jepang, gedung ini menjadi saksi bisu pembantaian yang dilakukan tentara Jepang terhadap orang-orang Belanda atau pun tentara gerilyawan yang tertangkap. Setelah itu, di setelah kemerdekaan, Lawang Sewu digunakan Kantor Perusahaan Kereta Api. Pihak militer sempat mengambil alih gedung ini, tapi sekarang sudah kembali lagi ke tangan PT KAI.

Sekarang, Lawang Sewu telah dipugar dan diperbagus. Catnya juga diperbaharui. Tamannya ditata, sehingga gedung lama peninggalan Belanda itu tak terlihat menyeramkan, malah indah dipandang. Tidak klop rasanya kalau datang ke Semarang tanpa mampir ke tempat-tempat wisatanya, apalagi Lawang Sewu. Di sana kita bisa merasakan nuansa mistis, sejarah, sekaligus keindahan bangunan.
Read More